TARAWIH DAN KEMUDAHAN DARI ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA

Materi Kajian Karyawan Toserba Ummat Cijoho-Kuningan, Kamis 26 Mei 2016

SHALAT TARAWIH

Shalat tarawih disyari’atkan secara berjama’ah berdasarkan hadits Aisyah Radhiyalahu ‘anha.

“Rasululah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada suatu malam keluar dan shalat di masjid, orang-orang pun ikut shalat bersamanya, dan mereka memperbincangkan shalat tersebut, hingga berkumpulah banyak orang. Ketika beliau shalat, mereka-pun ikut shalat bersamanya, mereka meperbincangkan lagi, hingga bertambah banyaklah penghuni masjid pada malam ketiga, Rasululah Shalalalhu ‘alaihi wa salam keluar dan shalat. Ketika malam keempat masjid tidak mampu menampung jama’ah, hingga beliau hanya keluar untuk melakukan shalat Shubuh. Setelah selesai shalat beliau menghadap manusia dan bersyahadat kemudian bersabda.

“Amma ba’du. Sesungguhnya aku mengetahui perbuatan kalian semalam, namun aku khawatir diwajibkan atas kalian, sehingga kalian tidak mampu mengamalkannya”

Rasululah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wafat dalam keadaan tidak pernah lagi melakukan shalat tarawih secara berjama’ah” (HR. Bukhari 3/220 dan Muslim 761.)

Abdurrahman bin Abdin Al-Qoriy beliau berkata:

“Aku keluar bersama Umar bin Al-Khaththab Radhiallahu ‘Anh suatu malam di bulan Ramadhan ke masjid, ketika itu manusia berkelompok-kelompok. Ada yang shalat sendirian dan ada yang berjama’ah, maka Umar berkata : “Aku berpendapat kalau mereka dikumpulkan dalam satu imam, niscaya akan lebih baik”. Kemudian beliau mengumpulkan mereka dalam satu jama’ah dengan imam Ubay bin Ka’ab, setelah itu aku keluar bersamanya pada satu malam, manusia tengah shalat bersama imam mereka, Umar-pun berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini, orang yang tidur lebih baik dari yang bangun, ketika itu manusia shalat di awal malam.” (Bukhari 4/218 dan tambahannya dalam riwayat Malik 1/114, Abdurrazaq 7733.)

 

Jumlah Rakaatnya

Manusia berbeda pendapat tentang batasan raka’atnya, pendapat yang mencocoki petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah delapan raka’at tanpa witir berdasarkan hadits Aisyah Radhiyalahu ‘anha.”Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah shalat malam di bulan Ramadhan atau selainnya lebih dari sebelas raka’at” (HR. Bukhari 3/16 dan Muslim 736)

 

Ketika Umar bin Al-Khaththab menghidupkan sunnah ini beliau mengumpulkan manusia dengan sebelas raka’at sesuai dengan sunnah shahihah, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Malik 1/115 dengan sanad yang shahih dari jalan Muhammad bin Yusuf dari Saib bin Yazid, ia berkata: “Umar bin Al-Khaththab menyuruh Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad-Daari untuk mengimami manusia dengan sebelas raka’at”.

 

Sebelas rakaat inilah yang lebih kuat/sah menurut sepengetahuan kami, adapun hadits-hadits tentang tarawih 23 rakaat, Wallohu a’lam, keterangannya adalah sebagai berikut, silahkan dipilih, perhatikan pendapat para ulamla berikut:.

 

Jumhur ulama mendekati riwayat-riwayat di atas dengan metode al jam’u, bukan metode at tarjih, sebagaimana yang dipilih oleh Syaikh Al Albani. Dasar pertimbangan jumhur adalah:

  1. Riwayat 20 (21, 23) raka’at adalah sah.
  2. Riwayat 8 (11, 13) raka’at adalah sah.
  3. Fakta sejarah menurut penuturan beberapa tabi’in dan ulama salaf.
  4. Menggabungkan riwayat-riwayat tersebut adalah mungkin, maka tidak perlu pakai tarjih, yang konsekuensinya adalah menggugurkan salah satu riwayat yang shahih.

 

Perbedaan tidak sama dengan perpecahan

Imam Syafi’I (150-204H), mengatakan,

“Saya menjumpai orang-orang di Mekkah. Mereka shalat (tarawih) 23 raka’at. Dan saya melihat penduduk Madinah, mereka shalat 39 raka’at, dan tidak ada masalah sedikitpun tentang hal itu.”

“Seandainya mereka memanjangkan bacaan dan menyedikitkan bilangan sujudnya, maka itu bagus. Dan seandainya mereka memperbanyak sujud dan meringankan bacaan, maka itu juga bagus; tetapi yang pertama lebih aku sukai.” (Fathul Bari, 4/23; Sunan Thmidzi, 151; Fath Al Aziz, 4/266)

 

Ibn Taimiyah berkata,

“Ia boleh shalat tarawih 20 raka’at sebagaimana yang mashur dalam madzhab Ahmad dan Sya’i. Boleh shalat 36 raka’at sebagaimana yang ada dalam madzhab Malik. Boleh shalat 11 raka’at, 13 raka’at. Semuanya baik. Jadi banyaknya raka’at atau’ sedikitnya tergantung lamanya bacaan dan pendeknya.”  Beliau juga berkata,

“Yang paling utama itu berbeda-beda sesuai dengan perbedaan orang yang shalat. Jika mereka kuat 10 raka’at ditambah witir 3 raka’at sebagaimana yang diperbuat oleh Rasul di Ramadhan dan di luar Ramadhan- maka ini yang lebih utama. Kalau mereka kuat 20 raka’at, maka itu afdhal dan inilah yang dikerjakan oleh kebanyakan kaum muslimin, karena ia adalah pertengahan antara 10 dan 40.  Dan jika ia shalat dengan 40 raka’at, maka boleh, atau yang lainnya juga boleh. Tidak dimaksudkan sedikitpun dari hal itu, maka barangsiapa menyangka, bahwa qiyam Ramadhan itu terdiri dari bilangan tertentu, tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang, maka ia telah salah.” (Majmu’ Al Fatawa, 23/113; Al Ijabat Al Bahiyyah, 22; Faidh Al Rahim Al Kalman,

132; Durus Ramadhan, 48.

 

Tata cara shalat tarawih

Aisyah Radhiallahu ‘Anha ditanya: “Bagaimana shalat Rasul pada bulan Ramadhan?” Dia menjawab, “Beliau tidak pemah menambah -di Ramadhan atau di luarnya- lebih dari 11 raka’at. Beliau shalat empat rakaat, maka jangan ditanya tentang bagusnya dan lamanya. Kemudian beliau shalat 3 raka’at.” (HR Bukhari).

 

Rasululah shalat empat raka’at dengan dua kali salam, kemudian beristirahat. Hal ini berdasarkan keterangan Aisyah, “Adalah Rasululah melakukan shalat pada waktu setelah selesainya shalat Isya’, hingga waktu fajar, sebanyak 11 raka’at, mengucapkan salam pada setiap dua raka’at, dan melakukan witir dengan satu raka’at”. (HR Muslim).

 

Juga berdasarkan keterangan Ibn Umar, bahwa seseorang bertanya, “Wahai Rasululah, bagaimana shalat malam itu?” Beliau menjawab, Yaitu dua raka’at-dua raka’at, maka apabila kamu khawatir shubuh, berwitirlah dengan satu raka’at. (HR. Bukhari).

 

BACAAN DOA BERBUKA PUASA

Dari Ibnu Umar, adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan :

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ الله

(Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan/urat-urat, dan telah tetap ganjaran/pahala, Inysa allah). [HR. Abu Dawud 92/306), Baihaqi (4/239), Al-Hakim (1/422) Ibnu Sunni (128), Nasaai dalam ‘Amalul Yaum (296), Daruquthni (2/185) dia berkata: “sanadnya hasan”.]

 

ORANG YANG BOLEH TIDAK BERPUASA

  1. Orang Sakit dan Musafir

Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang berfirman:

“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu, pada hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (QS. Al-Baqarah/2: 185)

 

Hamzah bin Amr Al-Aslami bertanya kepada Rasulullah صلی الله عليه وسلم: “Apakah boleh aku berpuasa dalam safar?” -dia banyak melakukan safar- maka Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:

“Berpuasalah jika kamu mau dan berbukalah jika kamu mau”  (HR. Bukhari 4/156 dan Muslim 1121)

 

  1. Wanita Haid dan Nifas

Ahlul ilmi telah bersepakat bahwa orang yang haid dan nifas tidak dihalalkan berpuasa, keduanya harus berbuka dan mengqadha, kalaupun keduanya puasa (maka puasanya) tidak sah

 

3.Kakek dan Nenek yang Sudah Lanjut Usia

Ibnu Abbas رضى الله عنهما berkata: “Kakek dan nenek yang lanjut usia, yang tidak mampu puasa harus memberi makan setiap harinya seorang miskin” (HR. Bukhari 4505)

 

Diriwayatkan oleh Daruquthni (2/207) dan dishahihkannya, dari jalan Manshur dari Mujahid dari Ibnu Abbas, beliau membaca ayat:

 

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

 

“Orang-orang yang tidak mampu puasa harus mengeluarkan fidyah makan bagi orang miskin” (QS. Al-Baqarah/2: 184)

 

Kemudian beliau berkata: “Yakni lelaki tua yang tidak mampu puasa dan kemudian berbuka, harus memberi makan seorang miskin setiap harinya 1/2 gantang gandum” (Lihat ta’liq barusan)

 

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه: “Barangsiapa yang mencapai usia lanjut dan tidak mampu puasa Ramadhan, harus mengeluarkan setiap harinya satu mud gandum” (Hadits Riwayat Daruquthni 2/208 dalam sanadnya ada Abdullah bin Shalih dia dhaif, tapi punya syahid)

 

Dari Anas bin Malik (bahwa) beliau lemah (tidak mampu untuk puasa) pada satu tahun, kemudian beliau membuat satu wadah Tsarid dan mengundang 30 orang miskin (untuk makan) hingga mereka kenyang. (Daruquthni 2/207, sanadnya Shahih)

 

  1. Wanita Hamil dan Menyusui

Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Kudanya Rasulullah صلی الله عليه وسلم mendatangi kami, akupun mendatangi Rasulullah صلی الله عليه وسلم, aku temukan beliau sedang makan pagi, beliau bersabda, “Mendekatlah, aku akan ceritakan kepadamu tentang masalah puasa..

Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala menggugurkan 1/2 shalat atas orang musafir, menggugurkan atas orang hamil dan menyusui kewajiban puasa”.

 

Demi Allah, Rasulullah صلی الله عليه وسلم telah mengucapkan keduanya atau salah satunya. Aduhai sesalnya jiwaku, kenapa aku tidak (mau) makan makanan Nabi صلی الله عليه وسلم” (HR. Tirmidzi 715, Nasa’i 4/180, Abu Daud 3408, Ibnu Majah 16687. Sanadnya Hasan sebagaimana pernyataan Tirmidzi)

 

PERKARA YANG MEMBATALKAN PUASA

  1. Makan dan Minum Dengan Sengaja

Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:

“Jika ia lupa hingga makan dan minum, hendaklah menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah yang memberinya makan dan minum” (HR.  Bukhari 4/135 dan Muslim 1155)

 

Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:

“Allah meletakkan (tidak menghukum) umatku karena kesalahan dan lupa serta karena dipaksa atas mereka” (HR. Thahawi dalam Syrahu Ma’anil Atsar 2/56, Al-Hakim 2/198, Ibnu Hazm dalam Al-Ihkam 5/149, Ad-Daruquthni 4/171 dari dua jalan yaitu dari Al-Auza’i dari Atha’ bin Abi Rabah dari Ubaid bin Umar, dari Ibnu Abbas, sanadnya Shahih)

 

  1. Muntah Dengan Sengaja

“Barangsiapa yang terpaksa (tidak sengaja) muntah, maka tidak wajib baginya untuk mengqadha’ puasanya, dan barangsiapa muntah dengan sengaja, maka wajib baginya mengqadha’ puasanya” (HR. Abu Dawud 2/310, Tirmidzi 3/79, Ibnu Majah 1/536, Ahmad 2/498 dari jalan Hisyam bin Hasan, dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah, sanadnya Shahih sebagaimana yang diucapkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Haqiqtus Shyam halaman 14)

 

  1. Haid dan Nifas
  2. Suntikan yang Mengandung Makanan

 

  1. Jima’

Diizinkannya bergaul (dengan istri) di malam hari, (maka bisa) difahami dari sini bahwa puasa itu dari makan, minum dan jima’. Barangsiapa yang merusak puasanya dengan jima’ harus mengqadha’ dan membayar kafarat, dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah رضي الله عنه (dia berkata) :

“Pernah datang seseorang kepada Rasulullah صلی الله عليه وسلم kemudian ia berkata, ‘Ya Rasulullah binasalah aku!’ Rasulullah bertanya, ‘Apa yang membuatmu binasa?’ Orang itu menjawab, ‘Aku menjimai istriku di bulan Ramadhan’. Rasulullah bersabda, ‘Apakah kamu mampu memerdekakan seorang budak?’ Orang itu menjawb, ‘Tidak’. Rasulullah bersabda, ‘Apakah engkau mampu memberi makan enam puluh orang miskin?’ Orang itu menjawab, ‘Tidak’ Rasulullah bersabda, ‘Duduklah’. Diapun duduk. Kemudian ada yang mengirim satu wadah korma kepada Nabi صلی الله عليه وسلم. Rasulullah bersabda, ‘Bersedekahlah’, Orang itu berkata, ‘Tidak ada di antara dua kampung ini keluarga yang lebih miskin dari kami’. Maka Nabi صلی الله عليه وسلم pun tertawa hingga terlihat gigi serinya, lalu beliau bersabda, ‘Ambillah, berilah makan keluargamu” (Hadits Shahih dengan berbagai lafadz yang berbeda dari Bukhari 11/516, Muslim 1111, Tirmidzi 724, Baghwai 6/288, Abu Dawud 2390, Ad-Darimi 2/11, Ibnu Majah 1617, Ibnu Abi Syaibah 2/183-184, Ibnu Khuzaimah 3/216, Ibnul Jarud 139, Syafi’i 199, Malik 1/297, Abdur Razak 4/196)

 

 

Sumber:

  • SIFAT SHAUM NABI صلي الله عليه وسلم FII RAMADHAN Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali خفظه الله Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamid خفظه الله
  • wordpress.com/2013/07/04/doa-buka-puasa-dan-syariat-shalat-tarawih/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s