MERAIH HIDUP BAHAGIA (1/2)

Oleh  Syeikh Abdur Rohman bin Nasir As-Sa’di

 

Segala puji hanya bagi Allah yang bagi-Nya seluruh pujian. Saya bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan saya bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada beliau, keluarganya dan para shahabatnya.

 

Sesungguhnya ketenangan hati dan kesenangannya serta hilangnya rasa gundah dan resah merupakan keinginan setiap orang. Karena dengan demikian akan tercapai kehidupan yang tenteram, bahagia dan sejahtera. Untuk mencapai hal-hal tersebut diperlukan sarana-sarana yang bersifat religius, alami dan logika yang kesemuanya tidak akan dapat dicapai kecuali oleh seorang mu’min . Adapun selain mereka, walaupun dapat diraih salah satunya itupun setelah para pemikir mereka menguras pikirannya untuk itu akan tetapi masih banyak hal lain yang terlewatkan yang lebih bermanfaat dan utama baik di dunia ini atau kehidupan berikutnya.

  1. IMAN DAN AMAL SALEH

Sarana yang paling utama dan paling mendasar dalam masalah ini adalah beriman kepada Allah dan beramal Shaleh . Firman Allah ta’ala :

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan  dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (An-Nahl: 97)

 

Allah ta’ala mengabarkan dan menjanjikan bagi siapa saja yang menggabungkan antara iman dan amal shaleh dengan kehidupan yang baik di dunia ini serta balasan kebaikan di dunia dan akhirat.

 

“Sesungguhnya perkara seorang mu’min itu menakjubkan, karena semua perkara yang dialaminya adalah baik; jika   mendapatkan kesenangan dia bersyukur, maka hal itu menjadi baik baginya, jika mengalami kesulitan dia bersabar, maka hal itu menjadi baik baginya, dan hal seperti itu tidak terdapat kecuali pada diri seorang mu’min” (Riwayat Muslim)

 

Dalam hadits tersebut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menggambarkan bahwa seorang mu’min akan berlipat-lipat kebaikan dan buah amalnya atas setiap apa yang dialaminya. Karena itu anda akan mendapatkan dua orang yang mengalami hal serupa baik berupa kebaikan ataupun keburukan, akan tetapi ada perbedaan yang besar diantara keduanya dalam menerimanya. Hal tersebut dapat terjadi, karena berbedanya iman dan amal shaleh pada keduanya.

 

“Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan pula sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah, apa yang tidak mereka harapkan” (An-Nisa: 104)

 

  1. BERBUAT BAIK KEPADA SESAMA MAKHLUK

Termasuk yang dapat mengusir perasaan gundah dan gelisah adalah berbuat baik kepada sesama makhluk dengan ucapan, perbuatan serta berbagai bentuk kebajikan.

 

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar” (An-Nisa: 114)

 

Allah ta’ala telah mengabarkan bahwa semua perkara yang disebutkan dalam ayat di atas adalah kebaikan, dan kebaikan selalu mendatangkan kebaikan berikutnya dan menolak keburukan. Seseorang yang berharap dari Allah ta’ala akan selalu Allah berikan kepadanya pahala yang banyak, diantaranya: hilangnya perasaan gundah dan gelisah dan kesulitan hidup lainnya.

 

  1. SIBUK DENGAN PEKERJAAN ATAU ILMU YANG BERMANFAAT

Dengan begitu dia akan melupakan apa yang selama ini membebani dirinya dan yang selama ini membuatnya gelisah. Maka kemudian jiwanya menjadi tenang, semangatnya bertambah. Sebab ini juga dapat terjadi pada diri seorang beriman atau yang bukan beriman. Akan tetapi orang beriman memiliki kelebihan karena keikhlasan dan harapan akan pahala dari apa yang menyibukkan dirinya, berupa ilmu yang dipelajari atau yang diajarkan, begitu juga dengan kebaikan yang dikerjakan. Jika hal tersebut berbentuk ibadah maka nilainya adalah ibadah, jika merupakan kesibukan atau kebiasaan dunia maka dia mengiringinya dengan niat yang shalih dan membantunya dalam beribadah kepada Allah. Dianjurkan agar perbuatan yang menyibukkan dirinya adalah yang sesuai dengan seleranya dan disenangi jiwanya, maka dengan begitu lebih memungkinkan untuk mendatangkan manfaat yang dia maksudkan. Wallahua’lam.

 

  1. MEMUSATKAN PIKIRAN UNTUK MELAKUKAN PEKERJAAN HARI INI DAN TIDAK DIHANTUI OLEH PIKIRAN-PIKIRAN MASA DEPAN ATAU KESEDIHAN MASA

“Berusahalah untuk meraih apa yang bermanfaat untukmu, mintalah pertolongan Allah dan janganlah engkau lemah. Jika ada sesuatu yang menimpamu, maka jangan engkau katakan: Seandainya saya kerjakan ini niscaya akan jadi begini dan begitu, akan tetapi katakanlah bahwa Allah yang telah menetapkannya, apa yang Dia kehendaki  Dia perbuat. Karena sesungguhnya (kata-kata) “seandainya” membuka peluang bagi perbuatan setan” (riwayat Muslim)

 

 

 

 

  1. MEMPERBANYAK ZIKIRKEPADA ALLAH TA’ALA.

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram” (Ar-Ra’du: 28).

 

Dengan kekhususannya, zikir memberikan peran yang besar untuk meraih semua yang diminta dan apa yang diinginkan seorang hamba dalam bentuk pahala dan ganjaran.

 

  1. SERING MENYEBUT NIKMAT-NIKMAT ALLAH, BAIK YANG NAMPAK MAUPUN TERSEMBUNYI

Mengenal nikmat-nikmat Allah dan selalu menyebutnya merupakan salah satu faktor yang dapat mengusir keresahan dan kesedihan, mendorong seorang hamba untuk bersyukur yang hal itu merupakan derajat syukur yang paling tinggi, walaupun ia tertimpa kefakiran, sakit atau musibah  lainnya. Karena jika dia bandingkan antara nikmat Allah kepadanya yang tidak terhitung baik kuwantitas ataupun kuwalitasnya dengan apa yang dideritanya dari berbagai kesulitan, niscaya kesulitan tersebut tidak seberapa jika dibanding nikmat Allah ta’ala .

 

  1. MELIHAT ORANG-ORANG YANG BERADA DI BAWAHNYA DAN TIDAK MELIHAT ORANG-ORANG YANG DIATASNYA.

Rasulullah Shallallahu’Alaihi wa Sallam bersabda dalam hadits shohih:

“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan janganlah  melihat orang-orang yang berada diatas, karena hal tersebut lebih memungkinkan untuk tidak mengabaikan nikmat-nikmat Allah atas kalian” (Riwayat Bukhori dan Muslim)

 

Maka setiap kali seorang hamba memperhatikan nikmat-nikmat Allah, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, baik dalam urusan agama maupun dunia, dia akan melihat bahwa Robbnya telah memberinya kebaikan yang banyak dan menjauhkannya dari aneka macam keburukan.

 

  1. MELUPAKAN BERBAGAI PENDERITAAN MASA LALU YANG TIDAK DAPAT DITOLAK

Dia juga memahami bahwa kehidupan masa depan tidak ada yang mengetahui, apakah dia akan mengalami kebaikan atau keburukan, terpenuhinya harapan atau kepedihan. Karena sesungguhnya semua itu berada di tangan Yang Maha Perkasa dan Bijaksana, manusia tidak berwenang sedikitpun di dalamnya kecuali berusaha untuk mendapat-kan kebaikan masa depannya dan menghindari segala sesuatu yang membahayakan. Seseorang yang  mengetahui bahwa ketenangan dapat diraih jika dia menyingkirkan pikirannya dari kekhawatiran terhadap masa depannya, kemudian bertawakkal kepada Allah dengan memperbaiki nasib kehidupannya, maka hatinya akan tenang, kondisinya akan membaik serta rasa rasa gundah dan kekhawatiran dalam hatinya akan hilang.

 

  1. BERDOA DENGAN DOA YANG DIPANJATKAN RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM,

Diantara doanya adalah :

»اللَّهُمَّأَصْلِحْلِيدِينِيَالَّذِيهُوَعِصْمَةُأَمْرِيوَأَصْلِحْلِيدُنْيَايَالَّتِيفِيْهَامَعَاشِي،وَأَصْلِحْلِيآخِرَتِيَالَّتِيإِلَيْهَامَعَادِيوَاجْعَلِالْحَيَاةَزِيَادَةًلِيفِيكُلِّخَيْرٍ،وَالْمَوْتَرَاحَةًلِيمِنْكُلِّشَرٍّ « [رواهمسلم ]

“Ya Allah, perbaikilah bagiku agamaku yang merupakan pelindung perkaraku, perbaikilah bagiku duniaku yang merupakan tempat kehidupanku, perbaikilah akhiratku yang disana tempat kembaliku, jadikanlah kehidupan ini sebagai sarana bagiku untuk menambah kebaikan, dan kematianku sebagai tempat istirahat dari segala keburukan”. (Riwayat Muslim)

 

Demikian pula dengan doa berikut:

»اللَّهُمَّرَحْمَتَكَأَرْجُوفَلاَتَكِلْنِيإِلَىنَفْسِيطَرْفَةَعَيْنٍوَأَصْلِحْلِيشَأْنِيكُلَّهُ،لاَإِلَهَإِلاَّأَنْتَ « [رواهأبوداودبإسنادصحيح]

“Ya Allah, rahmat-Mu aku harapkan, maka janganlah Engkau serahkan (urusan)-ku kepada diriku walau sekejap mata, perbaikilah semua urusanku, tiada ilah selain Engkau” (Riwayat Abu Daud dengan sanad yang shahih)

 

Maka jika seorang hamba meratap dengan doa tersebut yang didalamnya terdapat kebaikan masa depannya, baik agamanya maupun dunianya dengan menghadirkan hati dan niat yang benar serta kesungguhan bekerja untuk mewujudkannya, niscaya akan Allah kabulkan doa, harapan dan usahanya, hingga rasa gundah berganti dengan kesenangan dan kegembiraan.

 

  1. MEMPERKIRAKAN KEMUNGKINAN TERBURUK YANG AKAN MENIMPANYA KEMUDIAN MENGUATKAN DIRI UNTUK SIAP MENERIMANYA

Berupaya menganggap ringan beban kesulitan yang ditanggungnya dengan memperkirakan kemungkinan terburuk yang akan menimpanya, kemudian dia kuatkan dirinya untuk menerima hal tersebut.  Jika hal tersebut telah dilakukan maka selanjutnya dia berupaya untuk memperingan problem yang dihadapi  sedapat mungkin. Dengan kemantapan jiwa dan upaya yang bermanfaat tersebut, akan hilanglah perasaan gundah dan resah, berganti dengan upaya nyata untuk mendatangkan kemanfaatan dan menolak kesulitan yang mudah bagi seorang hamba.

 

Insya Allah bersambung …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s