BOLEHKAH MANUSIA MENILAI AMALAN ORANG LAIN?

Materi Kajian Toserba Ummat Cijoho-Kuningan
Kamis, 13 Oktober 2016

Bismillah.. segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa’ Ta’ala saja yang Mahabenar.

Ketika membaca dialog salah seorang sahabat lama saudara Muslim dengan seseorang. Ada suatu kalimat yang sangat mengganggu yang biasa digunakan oleh orang2 yang salah dan sudah terpojok namun tidak mau mengakui kesalahan.

 

Setelah direvisi bahasanya. Hal yang mengganggu saya tersebut intinya kurang lebih demikian:
1. Ini adalah pendapat “Fulan”, jadi bukan pendapat saya (fulan tersebut adalah Sarjana)

  1. Yang menilai ibadah itu Allah bukan kamu

Maka dalam pandangan pribadi tentang 2 hal tersebut di atas menurut ilmu saya yang sangat sedikit ini adalah sebagai berikut:
1. Ketika seseorang menukil pendapat orang lain, maka sama saja ia menyetujui, mendukung dan sependapat dengan orang tersebut. Maka tidak mungkin seseorang menukil pendapat seseorang kemudian ketika di kritik ia mengatakan “Ini bukan pendapat saya, saya hanya mengambilnya dari pendapat si Fulan.
Wallohu a’lam, hal seperti ini adalah seperti jawaban orang-orang munafik dan orang kafir ketika ditanya oleh Munkar dan Nakir. Sebagaimana hadits berikut:
“Adapun orang munafik dan orang kafir, maka ditanyakan kepada mereka, ‘Apa yang dulu Engkau katakan tentang orang ini –yaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam-?’
Maka mereka berkata, ‘Aku tidak tahu. Aku dulu mengatakan apa yang dikatakan oleh kebanyakan manusia.’
Malaikat berkata, ‘Engkau tidak tahu dan Engkau tidak mengikuti.’ Malaikat kemudian memukulnya dengan palu dari besi, dia pun berteriak sampai-sampai didengar oleh makhluk yang berada di atasnya, selain jin dan manusia” (HR. Bukhari dari Anas bin Malik Radhiallohu ‘Anh)

 

Maka menurut pendapat pribadi kami jawaban “ini bukan pendapat saya, tapi saya hanya mengambil pendapat Fulan”, merupakan jawaban dari orang yang melakukan kesalahan, tetapi tidak mau dipersalahkan dan bukan jawaban dari orang yang bertanggungjawab.

 

Dan juga apakah orang yang dinukilnya itu sudah pasti selalu benar??? Maka jawabannya adalah tidak, semua manusia bisa saja salah, kecuali para Nabi yang maksum.

 

“Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat” (Hadits hasan riwayat Ahmad (III/198), At Tirmidzi (no. 2499), Ibnu Majah (no. 4251) dan Al Hakim (IV/244). Lihat Shahih Jami’ush Shaghir (no. 4515), dari sahabat Anas)

 

  1. “Yang menilai ibadah itu Allah bukan kamu”. Maka menurut pendapat pribadi kami inipun merupakan jawaban dari orang yang melakukan kesalahan dan terpojok, tetapi tidak mau dipersalahkan dan bukan jawaban dari orang yang bertanggungjawab.

 

Manusia tidak boleh melakukan penilaian??? Mungkin benar jika manusia adalah makhluk yang tidak memiliki akal. Maka manusia yang berakal pasti akan memiliki penilaian terhadap segala sesuatu yang dirasakan oleh panca indera.

 

Jika memang manusia tidak boleh mewakili Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menilai, maka apakah gunanya akal??? Labih khususnya lagi, untuk apa adanya MUI. Bukankah MUI diadakan sebagai benteng pertama dari kelompok-kelompok dan pemahaman yang sesat dan menyesatkan?

 

“Yang menilai ibadah itu Allah”, ya, ini adalah pernyataan yang sangat benar, yang menilai ibadah itu adalah Allah saja, maka dari itu Allah turunkan Al Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka ketika seorang manusia menilai amalan yang nampak dari manusia lain menggunakan Al Qur’an dan Sunnah, maka berarti ia telah menilai dengan penilaian Allah Subhanahu wa Ta’ala, adapun amalan hati maka hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala sajalah yang mampu mengetahuinya.

 

Umar bin Al Khaththab Radhiallohu ‘Anh berkata :
“Sesungguhnya orang-orang telah mengambil wahyu (sebagai pedoman) pada masa hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan hari ini wahyu sudah terputus. Dan hari ini kita menilai kalian berdasarkan amal amal yang nampak (zhahir). Maka siapa yang secara zhahir menampakkan perbuatan baik kepada kita, kita percaya kepadanya dan kita dekat dengannya dan bukan urusan kita apa yang tersembunyi darinya karena hal itu sesuatu yang menjadi urusan Allah dan Dia yang akan menghitungnya. Dan siapa yang menampakkan perbuatan yang jelek kepada kita, maka kita tidak percaya kepadanya dan tidak membenarkannya sekalipun dibalik itu ada yang mengatakan baik”. [HR. Al-Bukhari]

 

Adapun sebagai orang awam, hendaknya melakukan penilaian saja, bukan vonis. Sebagai bentuk dakwah dan tidak menjadi setan bisu.

 

Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata: “Agama dan kebaikan apalagi yg ada pada seseorang yg melihat larangan-larangan Allah dilanggar, batas-batas-Nya diabaikan, agama-Nya ditinggalkan, dan sunnah Rasul-Nya dibenci. Orang yg hatinya dingin, lisannya diam (dari menyampaikan kebenaran dan mengingkari kemungkaran, pent), dia adalah Syaithon Akhros (Setan yg bisu dr jenis manusia), sebagaimana orang yg berbicara dengan kebatilan dinamakan Syaithon Naathiq (Setan yg berbicara dari jenis manusia).
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imron: 104)

 

Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa diantara kamu yang melihat kemungkaran, hendaklah ia merubah/mencegah dengan tangannya (kekuasaannya). Jika ia tidak mampu, maka hendaklah ia merubah/mencegahnya dengan lisannya (nasehat dan peringatan, pent). Dan jika tidak mampu, maka hendaklah ia merubah/mencegahnya dengan hatinya (yakni merasakan tidak senang dan tidak rela). Dan yg demikian itu adalah selemah-lemah Iman”. (Diriwayatkan oleh Imam Muslim, dan Ahmad).

 

Berbahagialah menjadi orang yang benar, karena orang yang benar insyaAllah pasti baik, akan tetapi orang yang baik belum tentu benar, karena kebenaran berasal dari keimanan.

Wallohu a’lam. Semoga kita senantiasa dibimbing di atas jalan yang benar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s