MENGHARGAI PENDAPAT ORANG LAIN

Materi Kajian Karyawan Toserba Ummat Cijoho-Kuningan
Kamis, 27 Oktober 2016

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Azza wa Jalla, Dzat yang telah mengangkat kedudukan para ulama yang bertakwa. Shalawat dan salam kepada Nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam penutup para nabi. Juga kepada keluarga, para sahabat dan yang mengikuti mereka sampai hari kiamat
Amma ba’du.

Slogan “menghargai pendapat orang lain”, berulang kali disampaikan melalui media audio maupun media cetak, dan ungkapan ini, seolah-olah sudah menjadi sebuah peraturan mengikat. Padahal ungkapan ini tidak mutlak, tidak sepenuhnya benar. Karena masalah-masalah yang berkaitan dengan din (agama), pijakannya ialah Al-Qur’an dan As-Sunnah, bukan berdasarkan pendapat. Sehingga siapapun yang salah dalam permasalahan din, maka pendapatnya tidak boleh dihargai dan tidak boleh didiamkan. Karena menghargai atau diam merupakan pengkhianatan terhadap Islam dan kaum muslimin; juga berarti menyembunyikan al-haq (kebenaran), padahal Allah Azza wa Jalla berfirman.
“(Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu) : “Hendaklah kalian menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kalian menyembunyikannya…)” [Ali-Imran : 187]

Meskipun yang keliru itu adalah orang terbaik atau orang yang paling tinggi martabatnya (dia tetap tidak boleh didiamkan, -red) karena kedudukan al-haq lebih tinggi dari dirinya.

Lihatlah! Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhu membantah pendapat Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu ‘anhuma ketika mereka menyelisihi dalil tentang pembatalan haji ke umrah. Dan Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Hampir saja ada batu yang jatuh dari langit menimpa kalian. Aku mengatakan Rasulullah bersabda, sedangkan kalian mengatakan Abu Bakar dan Umar mengatakan”. Karena tidak boleh berijtihad, jika ada nash atau dalil.

Contohlah Imam Abu Hanifah rahimahullah, beliau berkata : “Jika ada hadits yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was allam, maka kami taat sepenuhnya. Jika ada ucapan yang datang dari para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kami taat sepenuhnya. Jika ada ucapan yang datang dari selain mereka, maka mereka adalah tokoh, dan kami juga tokoh”. Maksudnya, sama-sama ulama, selama itu merupakan masalah ijtihadiy

Imam Malik rahimahullah juga berkata : “Kita semua bisa membantah dan bisa dibantah, kecuali penghuni kubur ini”. Maksudnya, ialah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, tidak ada seorangpun yang tidak boleh dibantah jika salah, dan ia tidak boleh fanatik dengan pendapatnya.

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata : “Jika ucapanku bertentangan dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka benturkanlah pendapatku dengan tembok”. Maksud beliau, tinggalkanlah pendapatku

Imam Ahmad rahimahullah berkata : “Aku heran dengan sebagian manusia yang sudah mengetahui sanad dan keshahihan sanad, namun mereka mengikuti pendapat Sufyan. Padahal Allah Azza wa Jalla berfirman, “(Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih)” [An-Nur/24 : 63]

Kemudian, untuk diketahui, orang-orang yang mempropagandakan slogan “menghargai pendapat orang lain”, mereka ini hanya akan menghormati dan menghargai pendapat-pendapat yang sesuai dengan nafsu dan sejalan dengan ambisi mereka, meskipun pendapat itu bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka tidak akan menghargai pendapat yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, jika pendapat ini berseberangan dengan nafsu dan ambisi mereka. Bahkan kemudian, mereka menyematkan gelar jumud (beku, tidak fleksibel), ekstrim, dangkal, dan berbagai gelar buruk lainnya terhadap pendapat yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Membantah orang yang menyimpang dalam urusan din (agama) merupakan perkara wajib, supaya al-haq tidak bercampur dengan yang bathil. Allah Azza wa Jalla telah membantah perkataan orang-orang kafir dan orang-orang munafiq dalam kitab-Nya yang mulia.Hanya saja (yang perlu diperhatikan, red) dalam membantah harus tetap dengan menggunakan adab-adab yang disyari’atkan. Dan tujuan melakukan bantahan ialah membela kebenaran, bukan membela diri dan menghabisi orang yang dibantah.Hendaklah tidak menyinggung pribadi orang yang dibantah

Dalil tentang Menghormati Orang Lain
Di antara tatakrama menghormati ulama adalah tidak berbicara bersama mereka dalam masalah-masalah berat dan susah untuk tujuan menguji ulama tersebut
“Janganlah engkau menuntut ilmu (bertujuan, berniat) untuk mengalahkan para ulama atau membantah orang-orang bodoh dan jangan pula untuk berani di majelis. Maka barangsiapa yang melakukan hal itu maka api neraka, api neraka.” [Shahih al-Jami’, hadits no 7370 (Shahih)]

Maka hendaklah merasa takut orang-orang yang bertanya hanya untuk membantah atau untuk menguji, bukan untuk belajar. Maka sesungguhnya sifat umat Muhammad salallahu a’laihi wassalam adalah menghormati dan membesarkan ilmu dan pemiliknya.

“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang tua dan tidak menyayangi yang muda dari kami serta tidak mengenal hak orang alim dari kami.”[ Shahih al-Jami’, hadits no. 5443 (hasan)]

Sebagaimana wajib menghormati orang alim, penuntut ilmu juga berhak mendapat penghormatan. Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dalam hadits utusan dari Bani Qais, sesungguhnya Rasulullah salallahu a’laihi wassalam menempatkan mereka sebagai tamu kepada kaum Anshar: (…Maka tatkala di pagi hari, beliau bersabda, ’Bagaimana kalian melihat penghormatan saudara-saudara kalian dan jamuan mereka terhadap kalian? Mereka menjawab, ‘Sebaik-baik saudara, mereka melembutkan tempat tidur kami dan membuat enak makanan kami, malam dan pagi hari mereka terus-menerus mengajarkan kepada kami Kitabullah (al-Qur`an) dan sunnah nabi kami.’[Musnad Ahmad 3/432] Dan yang lebih jelas dari itu, riwayat yang disebutkan dalam hadits Hasan:
‘Akan datang kepada kalian satu kaum yang menuntut ilmu. Maka bila kamu melihat mereka maka katakanlah kepada mereka: Selamat datang dengan wasiat/pesan Rasulullah salallahu a’laihi wassalam, dan berikanlah fatwa kepada mereka.’[Shahih al-Jami’, hadits no. 3651 (hasan)]

Maka hendaklah para ulama memberi pesan kebaikan kepada para santrinya, sesungguhnya hal itu menambah penghormatan dan penghargaan para murid (santri) kepada para guru dan pendidik mereka.

Di antara kemuliaan orang yang beriman adalah menghormati orang yang telah berbuat baik kepadanya, sesungguhnya Rasulullah salallahu a’laihi wassalam tidak melupakan jasa sebagian kaum musyrik yang punya peran dalam melindungi diri dan dakwahnya salallahu a’laihi wassalam. Bahkan, bangsa arab di masa jahiliyah mempunyai budi pekerti yang terpuji, yaitu menghormati orang yang berbuat baik kepada mereka. Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki dari kaum musyrik yang bernama Urwah bin Mas’ud, tatkala Abu Bakar bersikap kasar kepadanya dalam perdamaian Hudaibiyah, ia tidak menjawab sedikitpun, karena Abu Bakar pernah berbuat baik kepadanya yang belum sempat dibalasnya. Karena itulah ia berkata: ‘Demi (Allah) yang diriku berada di tangan-Nya, kalau bukan karena jasamu terhadapku yang belum sempat kubalas niscaya aku menjawab ucapanmu.’[Musnad Ahmad 4/324] Dan di dalam hadits yang shahih:
“Barang siapa yang berbuat baik kepadamu maka balaslah.” [Shahih Sunan Ibnu Majah 1/314, hadits no 1468/.1672]

Dan sekurang-kurang balasan yang mesti kamu berikan kepada yang berbuat baik kepadamu adalah menghormatinya.

Setiap mukmin pastas mendapat penghormatan maka dia tidak boleh disuruh berdiri untuk menempatkan orang lain, wajib menjamunya, disyari’atkan musyawarah dengannya, menghadapinya dengan muka manis, dan memasukkan rasa senang di hatinya. Pada dasarnya manusia senang dihormati dan dimuliakan serta meminta kepada Rabb-nya agar memuliakannya. Disebutkan dalam doa Nabi salallahu a’laihi wassalam:
“Ya Allah, tambahlah kepada kami dan jangan Engkau kurangi, muliakanlah kami dan jangan Engkau hinakan, berikanlah kepada kami dan jangan Engkau tahan, dan utamakanlah kami dan jangan engkau sisihkan…”[ Musnad Ahmad 1/34]

Ketahuilah, sangat merugi suatu umat yang tidak bisa saling menghormati dan menghargai:
“Cukuplah seseorang menjadi jahat bahwa ia menghinakan saudaranya sesama muslim.” [Shahih Muslim, hadits no. 2564 dan Ahmad 3/491 dan ini adalah lafazhnya]
Dan dalam pendirian Abu Sufyan di masa jahiliyahnya menjadi pelajaran bagi orang-orang yang jahil dan bagi mayoritas kaum muslimin dalam menghormati jiwa. Yaitu saat dia enggan memberikan kesaksian palsu di hadapan kaisar Hiraqlius dan rombongan yang menyertainya pada hak Rasulullah salallahu a’laihi wassalam. Dalam riwayat Ibnu Ishaq, ia menyebutkan alasan tersebut, ia berkata, ‘Demi Allah, jika aku berdusta niscaya mereka tidak menyanggah, akan tetapi saya adalah seorang pemuka yang enggan berdusta, dan aku mengetahui bahwa paling tidak –jika aku berdusta- mereka akan mengingat hal itu tentang diriku kemudian mereka membicarakannya, maka aku tidak berdusta.’[Dari FathulBari 1/35]

Ringkasan:
– Standar penghormatan seseorang adalah sekadar kebaikannya.
– Di antara gambaran penghormatan kepada ulama:
1. Membesarkannya dan merasa segan darinya.
2. Mengurangi bertanya kepadanya.
3. Tidak mencelanya karena kesalahan.
– Penghormatan ulama terhadap penuntut ilmu adalah dengan memuliakannya.
– Penghormatan kepada para senior dalam kebaikan adalah tanda kejujuran.
– Yang muda menghormati yang lebih tua.
– Menghormati kepada orang yang berbuat baik kepadanya.
– Setiap mukmin pantas mendapat penghormatan.
– Barangsiapa yang menghormati dirinya niscaya ia menghormati orang lain.
http://aglalvn.tumblr.com/…/kewajiban-menghormati-orang-lain
www.muslim.or.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s