TANDA-TANDA HUSNUL KHATIMAH

Materi Kajian Karyawan Toserba Ummat, Cijoho-Kuningan
Kamis, 10 November 2016

Husnul khatimah merupakan suatu kondisi yang mana seorang hamba diberi taufiq oleh Allah Ta’ala sebelum datangnya kematian untuk meninggalkan segala macam perbuatan yang mendatangkan kemurkaan Allah Ta’ala, dan ia diberi taufik oleh Allah ta’ala untuk bertaubat dari segala dosa dan maksiat dan bersegera melakukan ketaatan dan perbuatan baik, kemudian dia menutup usianya diatas kebaikan.

 

Dzat pembuat syari’at Yang Maha Bijaksana telah menjadikan tanda-tanda yang jelas yang bisa dijadikan petunjuk atas husnul khatimah (pada seseorang), semoga Allah subhanahu wa ta’ala menetapkan untuk kita dengan kemurahan dan karunia-Nya.Maka siapa saja yang meninggal disertai adanya salah satu di antara tanda-tanda itu berarti merupakan kabar gembira baginya.

TANDA PERTAMA: MENGUCAPKAN SYAHADAT MENJELANG KEMATIANNYA.
“Barangsiapa yang akhir ucapannya lailahaillallah maka ia masuk jannah.”
Dikeluarkan oleh Imam Al Hakim maupun yang lain dengan sanad yang hasan dari Mu’adz radhiyallahu’anhu. Dan melalui jalan lain juga darinya dengan lafadz:
“Tidaklah suatu jiwa mati, sedangkan ia bersaksi bahwa tidak ada Ilah (sesembahan) yang haq kecuali Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah, yang ucapannya itu kembali ke lubuk hati yang yakin, melainkan Allah ampuni jiwa itu.”
Dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah dan Imam Ahmad maupun yang lain dan dinyatakan shahih oleh Imam Ibnu Hibban. (namun Syaikh Albani menilai hadits ini hasan)

 

TANDA KEDUA: MENINGGAL DALAM KEADAAN BERKERINGAT DI DAHI (KENINGNYA)
Dari Buraidah bin Hushaib radhiyallahu’anhu, bahwa ia di Khurasan menjenguk saudaranya yang sedang sakit. Ternyata ia mendapatinya meninggal dan berkeringat dikeningnya. Maka ia berkata: Allahu akbar! Aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Matinya seorang Mukmin itu ditandai dengan keringat di kening.”
Dikeluarkan oleh imam Ahmad (5/357, 360) dan teks hadits ini ada pada beliau. Juga oleh Imam Nasa’i (1/259), Imam Tirmidzi (2/128) dan beliau menghasankannya, Imam Ibnu Majah (1/443, 444), Imam Ibnu Hibban (730), Imam Al Hakim (1/361), Imam thayalisi (808), Imam abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (9/223). Imam Al-Hakim mengatakan: Shahih, memenuhi persyaratan Muslim, dan disepakati oleh Imam Dzahabi.

 

TANDA KETIGA: MENINGGAL PADA MALAM JUM’AT ATAU SIANGNYA
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at kecuali Allah selamatkan dari fitnah kubur.”
Dikeluarkan oleh Imam Ahmad (6582-6646) dan Imam Fawasi dalam Al-Ma’rifah (2/520) dari dua jalan dari Abdullah bin amr. Imam Tirmidzi dari salah satu di antara jalan itu. Hadits ini ada pendukungnya dari anas dan jabir bin abdillah maupun yang lain. Maka hadits ini dengan keseluruhannya jalannya hasan atau shahih. *

 

TANDA KEEMPAT: MATI SYAHID DI MEDAN JIHAD
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapatkan rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bersenang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Ali Imran: 169-170)

Dalam bab ini ada beberapa hadits:Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Bagi orang yang mati syahid ada enam bagian di sisi Allah: diampuni baginya sejak awal kucuran darahnya, ditampakkan tempat tinggalnya di jannah, dilindungi dari adzab kubur, aman dari kengerian yang dahsyat, dihiasi dengan hiasan iman, dijodohkan dengan bidadari yang bermata indah dan diijinkan mensyafa’ati tujuh puluh dari karib kerabatnya.”
Dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi (3/17) dan beliau menshahihkannya, imam Ibnu Majah (2/184) dan Imam Ahmad (4/131) dengan sanad yang shahih. Kemudian juga beliau mengeluarkan (4/200) dari hadits Ubadah bin Shamit dan Qais Al Judzami (4/200) dan sanad keduanya juga shahih.

Catatan: Sangat diharapkan kesyahidan ini didapatkan bagi orang yang memintanya dengan ikhlas dari hatinya walaupun tidak mudah baginya mati syahid di medan perang. Hal ini berdasar kepada sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam:
“Barangsiapa minta kesyahidan kepada Allah dengan jujur, niscaya Allah sampaikan ia pada kedudukan para syuhada walaupun mati di kasurnya.”
Dikeluarkan oleh Imam Muslim (6/49) dan Imam Baihaqi (9/169) dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Hadits ini ada pendukungnya dalam Al Mustadrak (2/77). *

 

TANDA KELIMA : MATI SEBAGAI TENTARA DI JALAN ALLAH
Mati sebagai tentara di jalan Allah. Dari Abu hurairah radhiyallahu’anhu ia berkata:Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabat: “Apa saja yang termasuk mati syahid di antara kalian?” Mereka menjawab: “Ya Rasulullah, barang siapa terbunuh di jalan Allah dialah orang yang syahid.” Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berkata: “Kalau begitu orang kami syahid dikalangan umatku jumlahnya sangat sedikit.” Para sahabat berkata: “Jadi mereka itu siapa saja ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Barangsiapa yang terbunuh di jalan Allah maka dia mati syahid, barang siapa yang mati di jalan (membela) Allah maka dia mati syahid, barangsiapa yang mati karena wabah Tha’un dia mati syahid, barangsiapa mati karena sakit perut dia mati syahid dan orang yang mati tenggelam dia syahid.”
Dikeluarkan oleh Imam Muslim (6/51) dan Imam Ahmad (2/522) dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.

Dalam bab ini ada hadits dari Umar dalam riwayat Imam Al Hakim (2/109) dan Riwayat Imam Baihaqi. Dari Abu Malik Al anshari radhiyallahu’anhu ia berkata: Bersabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam:
“Barangsiapa yang keluar di jalan Allah lalu ia mati atau terbunuh maka ia syahid. Atau terjatuh dari kudanya atau untanya, atau disengat binatang berbisa, atau mati di kasurnya dengan sebab kematian apa saja yang dikehendaki Allah, maka ia syahid dan ia mendapat jannah.”
Dikeluarkan oleh Imam Abu Dawud (1/391), Imam Al Hakim (2/78) dan Imam Baihaqi (9/166) dari hadits Abu Malik Al Anshari

 

TANDA KEENAM : MATI KARENA SAKIT THA’UN (WABAH PES/SAMPAR/LEPRA)
Dari Hafshah bintu Sirin, ia berkata:Anan bin Malik radhiyallahu’anhu berkata kepadaku: “Apa penyebab kematian Yahya bin Abi ‘Amrah?” Saya berkata: “Dengan sebab penyakit Tha’un.” Maka Anas berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Tha’un adalah syahadah bagi setiap muslim.”
Dikeluarkan oleh Imam Bukhari (10/156-157), Imam Thayalisi (2113) dan Imam Ahmad (3/150, 220, 223, dan 258-256).

Dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha, beliau bertanya kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tentang Tha’un. Maka Nabi memberitahu:
“sesungguhnya Tha’un adalah adzab yang Allah subhanahu wa ta’ala kirim kepada siapa saja yang dikehendaki dan Allah menjadikannya sebagai Rahmat bagi orang-orang mukmin. Tidaklah seorang hamba tertimpa penyakit Tha’un, lalu ia tetap tinggal di daerahnya dengan sabar dan yakin (beriman) bahwa tidaklah hal itu menimpa dirinya kecuali dengan ketentuan Allah pada dirinya, tiada lain ia akan mendapatkan pahala seperti pahala syahid.”
Dikeluarkan oleh Imam Bukhari (10/157-158), Imam Baihaqi (3/376) dan Imam Ahmad (6/64, 145, 252).

 

TANDA KETUJUH: MENINGGAL DENGAN SEBAB SAKIT PERUT
“….dan barang siapa dengan sebab sakit perut maka ia syahid.”
Diriwayatkan oleh Imam Muslim maupun yang lain, dan telah lewat dengan sempurna pada tanda yang kelima.

“Barangsiapa yang mati dengan sebab sakit perutnya maka ia tidak akan diadzab di dalam kuburnya?”
Dikeluarkan oleh Imam Nasa’i (1/289), Imam Tirmidzi (2/160) Imam Ibnu Hibban di dalam Shahih-nya (no.728-Mawarid), Imam Thayalisi (1288) dan Imam Ahmad (4/262) dan sanadnya shahih.

 

TANDA KEDELAPAN DAN KESEMBILAN: MENINGGAL KARENA TENGGELAM DAN KERUNTUHAN BANGUNAN Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Orang yang mati syahid itu ada lima: mati karena tha’u, mati karena sakit perut, mati karena tenggelam, mati karena keruntuhan bangunan dan mati perang di jalan Allah.”
Dikeluarkan oleh Imam Bukhari (6/33-34), Imam Muslim (6/51), Imam Tirmidzi (2/159) dan Imam Ahmad (2/325 dan 533) dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.

 

TANDA KESEPULUH: SEORANG WANITA YANG MENINGGAL DI DALAM MASA NIFASNYA YAITU MENINGGAL KARENA MELAHIRKAN ANAKNYA, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: …Seorang Muslim yang mati di jalan Allah adalah syahid, mati karena tha’un adalah syahid, seorang yang mati karena anak yang ia kandung adalah syahid, (anaknya itu kelak akan menariknya dengan surorun (tali pusarnya) ke jannah).”
Dikeluarkan oleh Imam Ahmad (4/201-5/208), Imam Darimi (2/208) dan Imam Thayalisi (582) dan sanadnya shahih.

 

TANDA KESEBELAS DAN KEDUA BELAS: MENINGGAL DENGAN SEBAB TERBAKAR ATAU SAKIT DZATUL JAMBI (RADANG SELAPUT DADA)
Hadits dari Jabir bin ‘Atik secara marfu’:
“Orang-orang yang mati syahid selain orang yang terbunuh di jalan Allah ada tujuh: yang mati karena tha’un adalah syahid, yang mati karena tenggelam adalah syahid, yang mati karena radang selaput dada adalah syahid, yang mati karena sakit perut adalah syahid, yang mati karena terbakar adalah syahid, yang mati karena keruntuhan bangunan adalah syahid dan seorang yang mati bersama karena anak yang dikandungnya adalah syahid.”
Dikeluarkan oleh Imam Malik (1/232-233), Imam Abu Dawud (2/26), Imam Nasa’i (1/261), Imam Ibnu Majah ((2/186-186), Imam Ibnu Hibban di dalam Shahih-nya (1616 Mawarid), Imam Al Hakim (1/352) dan Imam Ahmad (5/446). Berkata Imam Al Hakim: Sanadnya shahih. Dan disepakati oleh Imam Dzahabi.

 

TANDA KETIGA BELAS : MENINGGAL KARENA SAKIT PARU-PARU (TBC)
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Terbunuh di jalan Allah adalah syahid, mati karena mengandung adalah syahid, mati karena terbakar adalah syahid, mati karena tenggelam adalah syahid, mati karena sakit paru adalah syahid dan mati karena sakit perut adalah syahid.”
Dikatakan dalam Majma’ Zawa’id (2/317 dan 5/301): Diriwayatkan oleh Imam Thabrani di dalam Al ausath dari Salman dan di dalam sanadnya ada Mandal bin ‘Ali yang banyak dibicarakan. Tetapi ditsiqahkan olehnya.

 

TANDA KEEMPAT BELAS: MENINGGAL DALAM RANGKA MEMPERTAHANKAN HARTA YANG AKAN DIRAMPAS
“Barangsiapa terbunuh dalam rangka mempertahankan hartanya (dalam sebuah riwayat: Barangsiapa diinginkan hartanya dengan cara yang tidak haq lalu ia memeranginya dan terbunuh) maka ia syahid.”
Dikeluarkan oleh Imam Bukhari (5/93), Imam Muslim (1/87), Imam Abu Dawud (2/285), Imam Nasa’i (2/173), Imam tirmidzi (2/315) dan beliau menyatakan shahih. Juga oleh Imam Ibnu Majah (2/123), Imam Ahmad (6816, 6823 dan 6829).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu ia berkata:
Ada seseorang yang datang kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam lalu berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana pendapat engkau jika ada seseorang yang ingin mengambil harta saya?” Rasulullah menjawab: “Jangan berikan hartamu kepadanya!” Lalu orang itu berkata lagi: “Bagaimana pendapat engkau jika ia menyerang saya?” Kata Rasulullah: “Lawan dia!” kata orang itu lagi: “Bagaimana jika ia membunuh saya?” Rasulullah menjawab: “Kamu mati syahid.” Ia berkata lagi: “Bagaimana pendapat engkau jika saya membunuhnya?” Kata Rasulullah: “Ia masuk neraka.”
Dikeluarkan oleh Imam Muslim (1/87), Imam Nasa’i (2/173) dan Imam Ahmad (1/33-360) dari jalan lain dari Abu Hurairah.

Dari Mukhariq radhiyallahu’anhu, ia berkata: “seseorang datang kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam lalu berkata: “Bagaimana jika ada orang yang datang kepada saya mengiginkan harta saya?” Rasulullah berkata: “Ingatkan ia kepada Allah!” Orang itu berkata: “Jika ia tidak mau ingat?” Rasulullah berkata: “Mintalah pertolongan kaum muslimin yang ada di sekitarmu untuk menghadapinya!” Katanya lagi: “Jika tidak ada seorang pun dari kaum muslimin di sekitar saya?” Rasulullah menjawab: “Mintalah pertolongan kepada penguasa!” Kata orang itu lagi: “Jika penguasa itu jauh dari saya (sedangkan orang itu mendesak saya?)” Rasulullah berkata: “Berperanglah untuk mempertahankan hartamu hingga kamu menjadi di antara para syuhada di akhirat, atau kamu bisa mempertahankan hartamu (menang)!”
Dikeluarkan oleh Imam Nasa’i (5/293-295) dan tambahannya ada pada beliau dan sanadnya shahih memenuhi persyaratan Muslim.

 

TANDA KELIMA BELAS DAN KEENAM BELAS: MENINGGAL DALAM RANGKA MEMPERTAHANKAN AGAMA DAN JIWA
“Barangsiapa terbunuh karena mempertahankan hartanya maka ia syahid, barangsiapa terbunuh karena mempertahankan keluarganya maka ia syahid, barang siapa terbunuh karena mempertahankan agamanya maka ia syahid, barangsiapa terbunuh karena mempertahankan darahnya maka ia syahid.”
Dikeluarkan oleh Imam Abu Dawud (2/275), Imam Nasa’i, Imam Tirmidzi (2/316) dan beliau menshahihkannya, dan Imam Ahmad (1652 dan 1653) dari Sa’id bin Zaid dan sanadnya shahih.

“Barangsiapa terbunuh karena mempertahankan diri dari kedhaliman seseorang maka ia syahid.”
Dikeluarkan oleh Imam Nasa’i (2/173-174) dari hadits Suwaid bin Muqarrin, Imam Ahmad (2780) dari Hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma dan sanadnya shahih

 

TANDA KETUJUH BELAS: MATI SEBAGAI MURABITH (PASUKAN YANG BERJAGA DI DAERAH PERBATASAN)
“berjaga di perbatasan (fibath) sehari semalam lebih baik dari puasa sebulan penuh di tambah shalat malamnya. Jika orang yang berjaga di perbatasan itu mati, maka akan mengalir terus (pahala) amalan yang ia lakukan dan akan dialirkan terus rizki atasnya serta dijamin aman dari fitnah (kubur).”
Diriwayatkan oleh Imam Muslim (6/51), Imam Nasa’i (2/63), Imam Tirmidzi (3/18), Imam Al Hakim (2/80) (2/80) dan Imam Ahad (5/440, 441) dari Hadits Salman Al Farisi. Juga diriwayatkan oleh Imam Thabrani (6179) dengan tambahan: “Dan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai syahid” akan tetapi di dalam sanadnya ada rawi yang tidak dikenal oleh Al Haitsami di dalam Majma’-nya (5/290). Sedangkan Al Mundziri mendiamkannya di dalam Targhib-nya (2/150).

“Semua orang yang telah mati ditutup amalannya, kecuali orang yang mati sebagai murabith (penjaga perbatasan) di jalan Allah, sesungguhnya dikembangkan terus amalannya hingga hari kiamat. Dan ia aman dari fitnah kubur.”
Dikeluarkan oleh imam Abu Dawud (1/391), Imam Tirmidzi (3/2) dan dishahihkannya, Imam Al Hakim (2/144) dan Imam Ahmad (6/20) dari Hadits Fadhalah bin ‘Ubaid radhiyallahu’anhu. Imam Al Hakim mengatakan: Shahih memenuhi persyaratan Bukhari dan Muslim.

 

TANDA KEDELAPAN BELAS: MENINGGAL DI ATAS AMALAN SHALIH
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang mengucapkan laailaaha illallah dalam rangka mencari wajah Allah dan diakhiri hidupnya dengan amalan itu maka ia masuk jannah. Barangsiapa puasa satu hari dalam rangka mencari wajah Allah dan diakhiri hidupnya dengan amalan itu maka ia masuk jannah. Barang siapa bershadaqah satu shadaqah dalam rangka mencari wajah Allah dan diakhiri hidupnya dengan amalan itu maka ia masuk jannah.”
Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dari Hudzaifah radhiyallahu’anhu dengan mengatakan: Kusandarkan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ke dadaku lalu beliau berkata…, lalu ia menyebutkan hadits ini dan sanadnya shahih. Al Mundziri berkata (2/61): Tidak ada masalah (dalam sanadnya).

dinukil dari karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullahu ta’ala

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s