MUSIBAH ATAU ANUGERAH

 

Bismillah, segala puji hanya bagi Allah saja yang Maha Esa dan Maha Kuasa, yang atas kehendakNya segala sesuatu terjadi.

 

Terkadang banyak diantara kita yang menganggap kejadian yang tidak menyenangkan sebagai suatu musibah dan mendapatkan sesuatu yang diinginkan sebagai suatu anugerah, padahal mungkin kita tidak menyukai sesuatu padahal sesuatu itu baik untuk kita dan kita menyukai sesuatu padahal sesuatu itu buruk untuk kita.

 

Pemahaman seperti yang kami sebutkan tidak dapat disalahkan 100% karena secara bahasa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia:

mu·si·bah berarti:

  1. kejadian (peristiwa) menyedihkan yg menimpa: dia mendapat — yg beruntun, setelah ibunya meninggal, dia sendiri sakit sehingga harus dirawat di rumah sakit;
  2. malapetaka; bencana: — banjir itu datang dng tiba-tiba

anu·ge·rah n pemberian atau ganjaran dr pihak atas (orang besar dsb) kpd pihak bawah (orang rendah dsb); karunia (dr Tuhan): ia mendapat — Bintang Mahaputra dr Pemerintah; bersyukurlah atas — Nya;

 

Lantas bagaimana syariat memandang hal ini???

 

Manusia senantiasa akan selalu diuji

Hal yang perlu dipahami adalah bahwa setiap manusia ditimpa sesuatu yang dianggap musibah disana ada hikmah dan anugerah yang tersembunyi, dan dibalik sesuatu yang dianggap anugerah disana ada fitnah dan musibah yang tersembunyi jika tidak pandai bersyukur. Sehingga seseorang yang memahami hal ini akan menemukan bahwa musibah akan menjadi anugerah jika dihadapi dengan kesabaran dan tawakal, dan anugerah akan menjadi musibah jika seseorang tidak bersyukur.

 

KETIKA MUSIBAH MENIMPA

Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. al-Baqarah:155-157)

 

Di dalam musnad Imam Ahmad, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Tidaklah seorang hamba yang ditimpa musibah mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, ya Allah berilah aku pahala dalam musibahku ini dan gantilah untukku dengan sesuatu yang lebih baik,” kecuali Allah akan memberikan pahala dalam musibahnya dan akan memberikan kepadanya ganti yang lebih baik.”  (HR.Ahmad 3/27)

 

Kita Milik Allah dan Kembali Kepada-Nya

Jika seorang hamba benar-benar menyadari bahwa dirinya adalah milik Allah subhanahu wata’ala dan akan kembali kepada-Nya maka dia akan terhibur tatkala tertimpa musibah. Kalimat istirja’ (Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un ) ini merupakan penyembuh dan obat paling mujarab bagi orang yang sedang tertimpa musibah. Dia memberikan manfaat baik dalam waktu dekat maupun di waktu yang akan datang.

 

Dua prinsip pokok istirja’ adalah:

Pertama; Bahwasanya manusia, keluarga dan harta pada hakikatnya adalah milik Allah subhanahu wata’ala. Dia bagi manusia tidak lebih hanya sebagai pinjaman atau titipan, sehingga jika Allah subhanahu wata’ala mengambilnya dari seseorang maka ia ibarat seorang pemilik barang yang sedang mengambilnya dari si peminjam.

 

Ke dua; Bahwa kesudahan dan tempat kembali seorang hamba adalah kepada Allah Pemilik yang Haq. Dan seseorang sudah pasti akan meninggalkan dunia ini lalu menghadap Allah subhanahu wata’ala sendiri-sendiri sebagaimana ketika diciptakan pertama kali, tidak memiliki harta, tidak membawa keluarga dan anak istri. Akan tetapi manusia menghadap Allah dengan membawa amal kebaikan dan keburukan.

 

Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,

“Tiada sesuatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”  (QS. al-Hadid:22-23)

 

Lihat Nikmat yang Tersisa

Termasuk salah satu terapi dalam menghadapi musibah adalah dengan cara melihat seberapa musibah dan seberapa besar nikmat yang telah diterima. Maka akan didapati bahwa Allah subhanahu wata’ala masih menyisakan baginya yang semisal dengannya, atau malah lebih baik lagi. Dan jika seseorang bersabar dan ridha maka Allah subhanahu wata’ala akan memberikan sesuatu yang lebih baik dan besar daripada apa yang hilang dalam musibah, bahkan mungkin dengan berlipat-lipat ganda. Dan jika Allah subhanahu wata’ala menghendaki maka akan menjadikan lebih dan lebih lagi dari yang ada.

 

Musibah Menimpa Semua Orang

Merupakan obat yang sangat bermanfaat di kala musibah sedang menimpa adalah dengan menyadari bahwa musibah itu pasti dialami oleh semua orang. Cobalah dia menengok ke kanan, maka akan didapati di sana orang yang sedang diberi ujian, dan jika menengok ke kiri maka di sana ada orang yang sedang ditimpa kerugian dan malapetaka. Dan seorang yang berakal kalau mau memperhatikan sekelilingnya maka dia tidak akan mendapati kecuali dimana ada kehidupan disana ada ujian, entah dengan hilanganya barang atau orang yang dicintai atau menemui sesuatu yang tidak mengenakkan dalam hidup.

 

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Pada setiap kegembiraan ada duka, dan tidak ada satu rumah pun yang penuh dengan kebahagiaan kecuali akan dipenuhi pula dengan kesedihan. Berkata pula Ibnu Sirin, “Tidak akan pernah ada senyum melulu, kecuali setelahnya pasti akan ada tangisan.”

 

Keluh Kesah Melipatgandakan Penderitaan

Di antara obat untuk menghadapi musibah adalah dengan menyadari bahwa keluh kesah tidak akan dapat menghilangkan musibah. Bahkan hanya akan menambah serta melipatgandakan sakit dan penderitaan.

 

Musibah Terbesar Adalah Hilangnya Kesabaran

Termasuk Obat ketika tertimpa musibah adalah dengan mengetahui bahwa hilangnya kesabaran dan sikap berserah diri adalah lebih besar dan lebih berbahaya daripada musibah itu sendiri. Karena hilangnya kesabaran akan menyebabkan hilangnya keutamaan berupa kesejahtaraan, rahmat dan hidayah yang Allah subhanahu wata’ala kumpulkan tiga hal itu dalam sikap sabar dan istirja’ (mengembalikan urusan kepada Allah).

 

ANTARA KENIKMATAN DAN FITNAH

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada segala apa yang diingini (syahwat), yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (Al-Jannah).” (Ali ‘Imran: 14)

 

Ketertarikan Hati Manusia Terhadap Harta/Dunia

Sungguh benar apa yang disabdakan dan diperingatkan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Kalaulah anak Adam (manusia) telah memiliki dua lembah dari harta, niscaya masih berambisi untuk mendapatkan yang ketiga. Padahal (ketika ia berada di liang kubur) tidak lain yang memenuhi perutnya adalah tanah, dan Allah Maha Mengampuni orang-orang yang bertaubat.” (HR. Al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya no. 6436, dari shahabat Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma)

 

Maka dari itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan orang-orang yang beriman dengan firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anak kalian (dapat) memalingkan kalian dari dzikrullah. Barangsiapa berbuat demikian maka merekalah orang-orang yang merugi.” (Al-Munafiqun: 9)

 

Harta/Dunia Dapat Menjadikan Seseorang Sombong

Kondisi serba berkecukupan alias kaya harta tak jarang membuat seseorang lupa daratan, melampaui batas, dan sombong. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Ketahuilah, sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas. Manakala dia melihat dirinya serba berkecukupan.” (Al-‘Alaq: 6-7)

 

Secara bahasa som·bong adalah menghargai diri secara berlebihan;

 

Sedangkan secara istilah som-bong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.

 

Jika tidak disertai dengan syukur, harta/dunia dapat menyebabkan seseorang menghargai diri secara berlebihan bahwa apa yang ia miliki adalah hasil usahanya sendiri, kemudian ia akan menolak kebenaran bahwa sesungguhnya yang ia dapatkan adalah karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan ia akan meremehkan manusia.

 

Apa yang harus dilakukan???

Diantara sifat orang beriman adalah ketika mendapat berbagai kenikmatan, dia bersyukur kepada Dzat yang telah memberikan nikmat tersebut yaitu Allah. Dia ucapkan: “Alhamdulillaah, segala puji bagi Allah” dan ucapan yang sejenisnya.

 

Memang arti syukur sendiri adalah memuji kepada Dzat yang telah memberikan berbagai kenikmatan dan kebaikan.  Tapi cukupkah dengan hanya memuji melalui lisan semata?

 

Sebenarnya tidak cukup hanya dengan itu, karena betapa banyaknya orang yang memuji Allah dengan lisan-lisan mereka ketika mendapatkan nikmat tetapi bersamaan dengan itu tetap bergelimang dalam kemaksiatan.

 

Akan tetapi syukur itu mempunyai rukun-rukunnya yaitu tiga rukun. Dimana syukurnya seorang hamba berporos pada tiga rukun tersebut –yang tidak akan dinamakan syukur kecuali dengan terkumpul ketiga-tiganya- yaitu: pertama: mengakui nikmat tersebut dengan batin (di dalam hati); kedua: membicarakannya secara zhahir (yaitu lisan kita memuji Dzat yang telah memberikan nikmat dan menyebut-nyebut nikmat tersebut); dan ketiga: meminta bantuan dengan nikmat tersebut didalam melaksanakan ketaatan kepada Allah (artinya menggunakan nikmat tersebut untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah).

 

 

 

 

Maka kesimpulannya, syukur itu berkaitan dengan hati, lisan dan anggota badan. Adapun tugasnya hati adalah pertama: mengakui nikmat tersebut semata-mata datangnya dari Allah bukan dari yang lainnya walaupun sebabnya bisa jadi melalui teman, jual beli atau yang lainnya akan tetapi semuanya itu hanyalah sebab atau perantara dalam mendapatkan nikmat akan tetapi pada hahikatnya yang memberinya hanyalah Allah semata; dan kedua: mencintai Dzat yang telah memberikan nikmat tersebut demikian juga mencintai nikmat tersebut.

 

Adapun tugasnya lisan adalah memuji dan menyanjung Dzat yang telah memberikan nikmat tersebut. Sementara tugasnya anggota badan adalah menggunakan nikmat tersebut untuk mentaati Dzat yang kita syukuri (yaitu Allah Ta’ala) dan menahan nikmat tersebut jangan sampai digunakan untuk kemaksiatan kepada-Nya.

 

Bersyukur Melipatgandakan Kenikmatan, karena Syukur Berkaitan dengan Keimanan

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhan kalian memaklumkan: “Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya ‘adzab-Ku sangat pedih.” (Ibraahiim:7)

 

“Allah tidak akan menyiksa kalian, jika kalian bersyukur dan beriman. Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (An-Nisaa`:147)

 

“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (Al-Insaan:3)

 

Maka hendaknya senantiasa iringi amalan-amalan kita dengan doa berikut :

عِبَادَتِكَ وَحُسْنِ وَشُكْرِكَ ذِكْرِكَ عَلَى أَعِنِّيْ اللَّهُمَّ

“Ya Allah, tolonglah aku agar senantiasa ingat kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.”

 

Wallohu a’lam.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s