Diposkan pada Uncategorized

MALMING with SUNNAH 01/04/2017

AIR MUTLAK & AIR MUSTA’MAL

8

Bismillah..

Segala puji bagi ALLAH Ta’ala, kami memuji-NYA, memohon pertolongan dan ampunan kepada-NYA. Dan kami berlindung kepada ALLAH Ta’ala dari kejahatan diri kami dan keburukan amalan-amalan kami. Barang siapa yang ALLAH beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang ALLAH sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberrikan petunjuk kepadanya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali ALLAH, tidak ada sekutu bagi-NYA, dan aku bersaksi bahwasannya Muhammad ShollALLAHu ‘Alayhi wa Sallam adalah hamba dan utusan ALLAH.

 

FIQIH adalah suatu ilmu yang mendalami hukum Islam yang diperoleh melalui dalil di Al-Qur’an dan Sunnah atau FIQIH berarti juga ilmu tentang hukum-hukum syari’ah praktis yang digali dari dalil-dalilnya secara terperinci.

Secara bahasa thaharah artinya membersihkan kotoran, baik kotoran yang berwujud maupun yang tak berwujud. Kemudian secara istilah, thaharah artinya menghilangkan hadats, najis, dan kotoran (dari tubuh, yang menyebabkan tidak sahnya ibadah lainnya) menggunakan air atau tanah yang bersih.. Media atau alat untuk bersuci banyak, diantaranya dengan menggunakan air, menyamak (kulit binatang), debu, menggosok, menggaruk/mengerik, dll.. insyaAllah semuanya akan terbahas… kita masuk ke bagian bersuci dengan air dulu…

 

  1. AIR

pembahasan tentang air lebih dikenal&diketahui daripada pembahasan lain yang terdapat dalam kitab2 fiqih. Air terbagi menjadi beberapa macam, yakni air mutlak, air musta’mal, air yang berubah karena benda suci, dan air yang bertemu dengan najis

 

  1. Air mutlak : ini adalah air yang suci mensucikan, maksudnya adalah air ini suci secara zatnya, serta dapat mensucikan yang lain, misalnya digunakan untuk wudhu dan mandi. Yang termasuk kategori air ini antara lain sebagai berikut :
  2. Air hujan, salju&embun

berdasarkan kepada Firman Alloh Ta’ala,

“dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih” QS Al Furqon [25]: 48)

“dan Allah menurunkan air (hujan) dari langit kepadamu untuk menyucikan kamu dengan (hujan) itu” QS Al Anfaal [8]: 11

 

Kemudian berdasarkan salah satu doa iftitah yang di ajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah kesalahanku sebagaimana pakaian yang putih disucikan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju, dan air dingin” (HR.Bukhari 2/182, Muslim 2/98)

 

  1. Air Laut

Tirta

Firman Allâh Azza wa Jalla :

أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ ۖ وَحُرِّمَ عَلَيْكُمْ صَيْدُ الْبَرِّ مَا دُمْتُمْ حُرُمًا ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. dan bertakwalah kepada Allâh yang kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. [al-Mâidah/5:96]

Apabila hewan laut halal bagi kita maka demikian juga airnya, tentu suci.

 

Berdasarkan pula dari hadits ketika seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Wahai Rasulullah, kami sedang naik kapal di laut, sementara kami membawa sediki perbekalan air,&jika kami berwudhu dengan air tersebut,maka kami akan kehausan. Bolehkah kami berwudhu dengan air laut?”. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ، الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

“Air laut itu suci, (dan) halal bangkainya.” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, an-Nasâ-i, Ibnu Mâjah, dan Ibnu Abi Syaibah, dan ini merupakan lafazhnya, dan telah dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, dan Tirmidzi dan telah diriwayatkan pula oleh Malik, Syafi’i dan Ahmad].

 

c.Air Zamzam (kemutlakan air ini ada perbedaan pendapat ulama)

Ketika terjadi perbedaan pendapat ulama, maka hal yang paling aman adalah menghindari perselisihan, maksudnya adalah ketika ada air mutlak lain, maka gunakan saja selain air zamzam

 

Madzhab (pendapat) dari kebanyakan ulama menyebutkan bahwasanya tidak dimakruhkan berwudhu’ dan mandi dengan air zamzam. Dalam suatu riwayat dari Imam Ahmad bahwasanya ia memakruhkannya oleh karena telah ada kabar dari al-‘Abbas Radhiyallahu anhu bahwa ia berkata tentang air zamzam, “Aku tidak menghalalkannya bagi siapa yang mandi, ia hanya halal dan boleh untuk orang yang meminumnya.”  Dan karena ia menghilangkan apa yang menghalangi (seseorang) dari shalat, ia seperti menghilangkan najis dengannya.

 

Dan di antara dalil-dalil jumhur seperti apa yang telah disebutkan oleh an-Nawawi: “Nash-nash yang benar, jelas dan mutlak dalam segala air tanpa ada perbedaan, bahwasanya kaum Muslimin berwudhu’ darinya dengan tanpa diingkari.” Lalu ia berkata: “Tidaklah benar apa yang mereka sebutkan tentang al-‘Abbas Radhiyallahu anhu, namun hal itu hanya yang diriwayatkan dari ‘Abdul Muththalib.”Kalau pun hal itu benar dari al-‘Abbas, tidak boleh meninggalkan nash-nash yang ada karenanya. Maka, para sahabat kami menjawab -orang-orang bermazhab Syafi’i- bahwa hal itu mungkin saja dilakukannya pada waktu kesulitan air oleh sebab banyaknya orang yang minum.”

 

Ibnu Qudamah menguatkan ketidakmakruhannya: “Berlebih-lebihan padanya tidak harus membuatnya menjadi makruh untuk dipakai, seperti air yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan telapak tangannya di dalamnya atau mandi darinya.”

 

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali Radhiyallahu anhu dalam kisah tentang Haji Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau meminta sebuah bejana penuh berisi air zamzam, lalu beliau minum darinya dan berwudhu’.”

 

Adapun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berpendapat makruhnya mandi dengan air zamzam selain wudhu’, karena hadats janabah adalah lebih berat, maka mandi janabah termasuk menghilangkan hadats besar dari satu sisi, maka wajib mandi dari janabah seperti wajibnya mandi dari najis dan oleh karena itu larangan dari al-‘Abbas Radhiyallahu anhu hanya untuk mandi tidak untuk wudhu’.

 

Hukum Istinja’ (Cebok) Dengan Air Zamzam

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum istinja’ dengan air zamzam terbagi kepada tiga pendapat. Pertama, hal itu diharamkan walaupun ia telah suci dengannya oleh karena kehormatan air zamzam dan kemuliaannya, sebagian lain beralasan bahwa ia termasuk dari makanan pokok seperti halnya makanan, maka ia pun ikut menjadi haram karena dimakan atau diminum. Pendapat kedua adalah makruh dan yang ketiga adalah berlawanan dengan yang pertama, dan tidak boleh menghilangkan najis dengannya apalagi istinja’, khususnya bila yang lainnya ada.

 

Dan hal-hal yang juga dilarang bersuci dengan air zamzam adalah dilarang memandikan mayat dengannya seperti yang diisyaratkan kepadanya oleh sebagian ulama. Al-fakihi, menyebutkan -ia merupakan ulama abad ketiga- bahwa penduduk Makkah memandikan mayat mereka dengan air zamzam, apabila mereka telah selesai memandikan mayat dan membersihkannya, mereka menjadikan akhir dari mandinya dengan maksud bertabarruk dengannya.”

 

  1. Air Musta’mal : air yang jatuh dari anggota wudhu orang yang berwudhu. Atau gampangnya kita sebut air musta’mal dengan air bekas bersuci, baik itu wudhu atau mandi

Tirta

menurut pendapat penulis buku&beberapa pendapat lain bahwa air musta’mal ini tetap Suci&Mensucikan… karena yang saya tau pada beberapa tempat/sekolah diajarkan bahwa ketika berwudhu maka tidak boleh terkena percikan air bekas wudhunya, maka ini adalah pendapat yang kurang tepat.. wallohu a’lam.. Air musta’mal itu suci&mensucikan, kita liat dalil2nya:

Tirta

Pertama:

 

عن ابن عباس –رضي الله عنهما– قال: اغتسل بعض أزواج النّبيّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – في جفنة ,فجاء النّبيّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ليتوضَّأ منها –أو يغتسل– فقالت له: يا رسول الله! إِنِّي كنتُ جُنُباً. فقال رسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: إِنَّ الماء لا يُجْنِب

 

Dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma, ia berkata: sebagian istri Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mandi dalam sebuah bak. Lalu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam datang untuk berwudhu -atau mandi- dari air bak tersebut. Maka diantara istri Nabi ada yang berkata: “Wahai Rasulullah, saya tadi mandi junub di situ”. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “sesungguhnya air itu tidak membuat junub” (HR. Tirmidzi no. 65, ia berkata: “hasan shahih”).

 

Hadits ini adalah dalil tegas bahwa air musta’mal bisa digunakan untuk bersuci.

 

Kedua:

 

عن الرّبَيِّع بنت مُعَوِّذ –رضي الله عنها– في وصف وضوء رسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: “أنَّ النّبيّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مسحَ برأسه مِن فضْل ماءٍ كان في يده“

 

Dari Ar Rabi’ binti Mu’awwidz radhiallahu’anha, mengenai sifat wudhu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam: “bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam membasuh kepalanya dengan kelebihan air yang ada di tangannya” (HR. Abu Daud no. 130, dihasankan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud).

 

Ketiga:

 

عن أبي سعيد الخدري –رضي الله عنه– قال: سمعتُ رسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وهو يُقال له: إِنَّه يُستقى لك مِن بئر بُضاعة –وهي بئر يُلقى فيها لحوم الكلاب والمحايض وعُذَر النَّاس– فقال رسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: “إِنَّ الماء طهور، لا ينجِّسه شيء“

 

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu, ia berkata: aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah ditanya mengenai air yang diambilkan dari sumur bidha’ah, yaitu sumur yang biasa dibuang bangkai anjing, kain pembalut dan kotoran. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “air itu mensucikan, tidak menajiskan apapun” (HR. Tirmidzi no. 66, ia berkata: “hasan”, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi).

 

Dalam hadits ini Nabi menggunakan kata طهور (mensucikan) yang terkait dengan sifat thahuriyyah (keabsahan untuk bersuci). Maka jika bangkai anjing, kain pembalut wanita dan kotoran tidak membuat air kehilangan sifat thahuriyyah-nya, terlebih lagi air yang digunakan untuk basuhan kulit manusia ketika bersuci dari hadats.

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: “semua yang disebut dengan sebutan ‘air’ maka ia suci dan mensucikan. Baik ia musta’mal (telah digunakan) untuk bersuci yang wajib atau bersuci yang sunnah, atau bersuci yang tidak sunnah (mubah)” (Majmu’ Al Fatawa 19/236, dinukil dari Fatawa As Sual wal Jawab no. 224255).

 

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan: “Jika air dalam jumlah banyak digunakan orang untuk berwudhu, lalu air tersebut tersisa di sana, maka boleh digunakan untuk berwudhu oleh orang yang kedua. Pendapat yang tepat hal tersebut tidak mengapa, tidak membuat air tersebut menjadi najis, dan tidak menghilangkan thahuriyyah-nya (keabsahan untuk mensucikan). Sebagian ulama mengatakan bahwa ia suci namun tidak mensucikan dan tidak bisa mewujudkan kesucian. Pendapat ini tidak berlandaskan dalil. Yang benar, ia dapat mensucikan. Jika seseorang bersuci dengannya dari sebuah bejana, atau bejana besar, lalu airnya terciprat ke bejana yang lain lalu digunakan oleh orang lain untuk berwudhu, maka ini tidak mengapa selama tidak ada najis di sana. Karena orang yang pertama tersebut mencuci wajahnya, lengannya, dan membasuh kepalanya dan telinganya, tentu ini tidak membuat airnya menjadi najis dan menghilangkan thahuriyyah-nya, berdasarkan pendapat yang rajih. Namun meninggalkannya itu lebih baik, dalam rangka meninggalkan yang meragukan dan beralih kepada yang tidak meragukan” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, juz 5 halaman 272, versi web: http://www.alifta.net/Fatawa/fatawaDetails.aspx?View=Page&PageID=805&PageNo=1&BookID=5).

 

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di merinci hukum air musta’mal menjadi enam rincian:

 

Pertama: air musta’mal yang sudah dipakai untuk menghilangkan najis. Jika berubah salah satu sifatnya, maka ia najis. Jika terkena najis namun tidak berubah sifat-sifatnya, maka ia suci dan mensucikan, baik jumlah airnya banyak maupun sedikit.

 

Kedua: air musta’mal yang sudah digunakan untuk menghilangkan hadats (yang diwajibkan atau disyaratkan, pent). Maka ia tetap suci dan mensucikan karena tidak adanya dalil yang memalingkan statusnya dari “suci dan mensucikan” yang merupakan status asalnya, kepada status yang lain.

 

Ketiga: air musta’mal yang sudah digunakan untuk thaharah yang disyariatkan (namun tidak diwajibkan atau disyaratkan, pent.), seperti memperbaharui wudhu. Maka ia juga statusnya tetap suci dan mensucikan karena tidak adanya dalil yang memalingkan statusnya dari “suci dan mensucikan” yang merupakan status asalnya, kepada status yang lain.

 

Keempat: air musta’mal yang sudah digunakan untuk thaharah yang tidak disyariatkan, yaitu yang hukum asalnya mubah, seperti mandi rutin, cuci tangan sebelum makan, mencuci muka, dll. Maka ia suci dan mensucikan.

 

Kelima: air musta’mal yang sudah digunakan untuk mandi junubnya wanita. Maka ia suci dan mensucikan berdasarkan hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

 

إِنَّ الماء لا يُجْنِب

 

“sesungguhnya air itu tidak membuat junub”.

 

Adapun pendapat yang melarangnya adalah pendapat yang lemah dan tidak dilandasi dalil.

 

Keenam: air musta’mal yang sudah digunakan untuk mencuci tangan orang yang bangun tidur (Diringkas dari Irsyad Ulil Bashair li Nailil Fiqhi, 1/18).

 

Kesimpulan

Air musta’mal suci dan mensucikan selama tidak berubah warna, bau atau rasanya.

Iklan

Penulis:

just an ordinary person

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s