Diposkan pada Uncategorized

MALMING with SUNNAH 08/04/2017

HUKUM AIR YANG TERCAMPUR BENDA SUCI DAN BENDA NAJIS

000

 

 

3.AIR YANG BERUBAH KARENA TERCAMPUR BENDA SUCI

Adalah air yang tercampur benda yang suci, misalnya sabun, minyak, ataupun benda lain.

 

Status air tersebut tetap suci dan mensucikan selama masih terjaga kemutlakannya, akan tetapi jika benda yang mencampuri air tersebut banyak sehingga dengan jelas merubah air tersebut, dari warna, rasa, dan bau, maka menurut mazhab Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad, air tersebut tetap suci tetapi tidak lagi mensucikan

Air yang bercampur dengan benda yang suci memiliki beberapa kondisi, yaitu:

KONDISI PERTAMA

Air yang mengalami perubahan sifat karena bercampur dengan benda yang suci namun tidak dapat larut di dalam air seperti minyak, kapur barus, getah, dan yang sejenis.

 

Mayoritas ahli fikih berpendapat bahwa air dalam kondisi demikian tetap berstatus sebagai air thahur (suci dan menyucikan), sehingga masih dapat digunakan untuk bersuci.

 

Dalilnya adalah sebagai berikut:

Pertama

Hadits Ummu ‘Athiyah radhiallahu ‘anha,

دخل علينا رسولُ الله صلَّى الله عليه وسلَّم حين تُوفِّيت ابنته فقال: اغسلْنَها ثلاثًا أو خمسًا أو أكثر من ذلك إن رأيتُنَّ ذلك بماءٍ وسِدر، واجعلْنَ في الآخِرة كافورًا أو شيئًا من كافور، فإذا فرغتُنَّ فآذنَّنِي

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki tempat kami, sedangkan kami tengah memandikan jenazah anak beliau (yaitu Zainab). Maka beliau berkata, “Mandikanlah dia sebanyak tiga kali, lima kali atau lebih dari itu jika diperlukan dan jadikanlah kali yang terakhir dengan kapur barus (wewangian). Apabila kalian telah selesai, segera beritahukan kepadaku’ [Shahih. HR. Bukhari : 1253 dan Muslim : 939].

 

Kedua

Hadits Ummu Haani radhiallahu ‘anha, dia mengatakan,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اغْتَسَلَ وَمَيْمُونَةَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ فِي قَصْعَةٍ فِيهَا أَثَرُ الْعَجِينِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi bersama Maimunah dari bejana yang sama dan menggunakan gayung yang di dalamnya terdapat bekas adonan roti” [Shahih. HR. Ibnu Maajah : 378].

 

Pada hadits di atas jelas menyebutkan bahwa air yang digunakan untuk bersuci adalah air yang tercampur dengan zat lain yang juga suci. Meski demikian, pencampuran tersebut tidaklah menghilangkan penamaan air sehingga tidak dapat digunakan bersuci.

Selain itu, zat yang suci ini tidaklah larut di dalam air. Sebagai contoh minyak masuk ke dalam air akan mengapung di atas air sehingga yang terjadi adalah perubahan yang disebabkan adanya dua hal yang berdekatan (taghayyur mujaawarah), bukan perubahan yang disebabkan adanya dua hal yang larut bersama-sama.

 

Dengan demikian, pencampuran yang ada tidaklah sempurna secara keseluruhan tidaklah menghilangkan sifat mensucikan dari air tersebut, tidak ada perbedaan baik zat yang yang suci tersebut dalam keadaan terpisah atau bersentuhan dengan air

 

Termasuk dalam kondisi ini adalah air yang :

#1 : Bercampur dengan sesuatu yang suci di mana air sulit dijaga agar tidak bercampur dengan hal tersebut

Hal ini seperti air yang terdapat di suatu kolam yang ditumbuhi lumut atau tumbuhan semacamnya. Meski terjadi perubahan pada air, hukum air tersebut tetaplah suci dan menyucikan sehingga dapat digunakan untuk bersuci. Hukum yang sama juga diterapkan pada air yang ada di suatu kolam yang dipenuhi dengan dedaunan, atau air yang mengalami perubahan sifat karena ditempatkan pada wadah yang terbuat dari kulit atau tembaga, dan yang semisalnya.

 

#2 : Bercampur dengan garam

Garam tidaklah menghilangkan sifat thahur pada air. Pendapat ini merupakan Hanafiyah, Malikiyah, salah satu pendapat di kalangan Syafi’iyah dan Hanabilah, dan pendapat yang dipilih oleh Ibnu Taimiyah, Ibnu Baaz, dan al-Utsaimin rahimahumullah ajma’in.

 

Dalil akan hal ini adalah hadits yang menyatakan sucinya air laut. Seperti yang telah jamak diketahui bahwa air laut mengalami perubahan rasa karena kandungan garam yang sangat tinggi. Meski demikian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap mengatakan akan kesuciannya. Air yang dicampur garam dan tentu dengan kandungan garam yang lebih rendah  dari air laut pasti memiliki hukum yang sama, yaitu berstatus suci dan menyucikan.

 

KONDISI KEDUA

Air yang mengalami perubahan sifat karena terlalu lama berada dalam wadah penyimpanan, yaitu air al-aajin yang mengalami perubahan rasa dan warna karena disimpan terlalu lama. Status air ini adalah suci dan menyucikan berdasarkan kesepakatan empat madzhab fikih.

 

Dalilnya adalah sebagai berikut :

Pertama

Dalil-dalil yang secara mutlak menunjukkan kesucian air yang turut mencakup air yang sifatnya berubah (misal : berbau tidak enak) karena berada dalam wadah penyimpanan dalam waktu yang lama [al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwatiyah 39/358].

 

Kedua

Hadits az-Zubair radhiallahu ‘anhu, beliau menyampaikan,

أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَأَتَى الْمِهْرَاسَ، وَأَتَاهُ بِمَاءٍ فِي دَرَقَتِهِ، فَأَرَادَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَشْرَبَ مِنْهُ فَوَجَدَ لَهُ رِيحًا فَعَافَهُ، فَغَسَلَ بِهِ الدَّمَ الَّذِي فِي وَجْهِهِ، وَهُوَ يَقُولُ: «اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّهِ عَلَى مَنْ دَمَّى وَجْهَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan ‘Ali bin Abi Thalib untuk mengambil air. Ali pun pergi ke al-Mihras dan membawakan air untuk beliau menggunakan tameng kulit. Namun, beliau tidak jadi meminumnya karena mencium bau yang tidak sedap. Kemudian, beliau hanya menggunakan air tersebut untuk mencuci darah yang terdapat di wajah beliau dan berkata, “Sungguh Allah sangat murka kepada kaum yang telah melukai wajah Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam.” [Hasan. HR. Ibnu Hibban : 6979].

 

Segi pendalilan

Perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tetap menggunakan air tersebut untuk mencuci wajah merupakan dalil akan kesucian air tersebut [al-Ausath 1/368].

 

Ketiga

Perubahan sifat air pada kondisi tersebut tidak dapat dihindari sehingga hal ini serupa dengan sesuatu yang suci namun tidak dapat dicegah untuk bercampur dengan air (misal : tumbuhan lumut yang berada di kolam). [al-Majmu’ 1/91].

 

Air yang tercampur benda suci sehingga tidak bisa digunakan untuk mensucikan ketika campuran itu merubah nama/zat air tersebut. Misalkan air yang berubah namanya karena direbus atau dimasak bersama-sama dengan benda yang suci, misalnya teh, atau tercampur susu, sehingga berubah warna,bau dan rasanya… maka air ini suci tetapi tidak bisa digunakan untuk mensucikan

 

Termasuk juga tidak bisa mensucikan dengan jus

Mayoritas ulama menyatakan tidaklah sah bersuci dengan jus ketika tidak ditemukan air

 

Dalilnya adalah sebagai berikut :

Pertama :

Firman Allah ta’ala,

وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا

“Dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air, atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih).” [QS. Al-Maidah: 6].

 

Segi pendalilan

Dalam ayat di atas, ketika tidak ditemukan air, maka yang menjadi pengganti untuk bersuci adalah tanah, bukan yang lain. Jus bukanlah air, baik ditinjau dari sisi bahasa maupun syari’at sehingga bersuci hanya diperbolehkan dengan menggunakan air atau tanah ketika tidak terdapat air. Seorang yang bersuci dengan jus, maka telah menyelisihi perintah di atas. [al-Ausath 1/363, al-Majmu’ 1/94].

 

Kedua

Hadits Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu, beliau menyampaikan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلًا مُعْتَزِلًا لَمْ يُصَلِّ فِي القَوْمِ، فَقَالَ: يَا فُلاَنُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تُصَلِّيَ فِي القَوْمِ؟ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ: أَصَابَتْنِي جَنَابَةٌ وَلاَ مَاءَ، قَالَ: عَلَيْكَ بِالصَّعِيدِ فَإِنَّهُ يَكْفِيكَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat seorang menyendiri dan tidak ikut shalat bersama orang banyak, beliau lalu bertanya, “Wahai fulan, apa yang menghalangi kamu untuk shalat bersama orang banyak?” Maka orang itu menjawab, “Wahai Rasulullah, aku mengalami junub dan tidak terdapat air.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wajib bagi anda menggunakan tanah dan itu sudah cukup buatmu.” [Shahih. HR. al-Bukhari : 348].

 

 

 

Segi pendalilan

Kalaulah bersuci dengan selain air itu diperbolehkan tentu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memerintahkan orang tersebut untuk mencari jus atau yang sejenis untuk digunakan bersuci. [al-Ausath 1/364].

 

Ketiga

Penamaan air tidak dapat ditetapkan pada suatu benda cair di mana zat selain air lebih dominan sehingga seluruh karakteristik air tidak lagi ditemukan. Dengan demikian, jus atau yang sejenis tidaklah tepat jika masih tercakup dalam penamaan air, artinya tidak boleh digunakan untuk bersuci [al-Muhalla 1/195].

 

 

  1. AIR YANG BERCAMPUR DENGAN BENDA NAJIS

KONDISI PERTAMA: Benda najis itu merubah rasa, warna, dan bau dari air. Dalam kondisi ini air tersebut sudah tidak boleh lagi digunakan untuk bersuci menurut ‘Ijma

 

KONDISI KEDUA : air itu tidak berubah sama sekali dari segi rasa, warna, dan bau. dalam kondisi demikian, status air tersebut tetap suci dan mensucikan, baik air itu sedikit ataupun banyak.

Dalam kitab Al Amm karya Imam Syafii, dituliskan sebagai berikut :

 

Air yang dapat berubah menjadi najis dan yang tidak

 

Air terbagi atas dua macam; yang mengalir dan yang tergenang.

  1. Air Mengalir

Apabila di dalam air yang mengalir itu terdapat sesuatu yang diharamkan; seperti bangkai, darah, atau sejenisnya dan berhenti pada suatu muara, maka air yang tergenang itu menjadi najis bila kadar air lebih sedikit dari jumlah bangkai, yaitu kurang dari 5 (lima) geriba [5 geriba menyamai seperempat hasta orang dewasa, baik panjang, dalam, dan luasnya]. Akan tetapi bila jumlah airnya lebih dari 5 geriba, maka ia tidak dikategorikan najis, kecuali apabila rasa, warna, dan baunya telah berubah karena najis, sebab air yang mengalir akan menghanyutkan semua kotoran.

 

Apabila bangkai atau kotoran hanyut dalam aliran air, maka boleh bagi seseorang bersuci pada bagian yang datang sesudahnya, sebab air yang mengikuti bangkai tersebut tidak dianggap air yang ditempati bangkai itu dikarenakan tidak dicampuri oleh najis. Apabila kadar air yang mengalir itu sedikit dan di dalamnya terdapat bangkai, lalu seseorang berwudhu dengan air disekitarnya, maka hal itu tidak diperbolehkan jika air yang berada di sekitar bangkai itu kurang dari 5 geriba. Namun boleh baginya bersuci dengan air yang berikutnya.

 

Satu hasta itu dari ujung jari hingga siku orang dewasa.. sekitar 45 cm.. seperempatnya kira2 11-12 cm

 

  1. Air tergenang

Air tergenang terdiri dari 2 macam:

Pertama, air yang tidak najis apabila bercampur dengan sesuatu yang haram, kecuali apabila warna, bau, dan rasanya telah berubah. Apabila sesuatu yang haram terdapat dalam air itu dan merubah salah satu sifat yang disebutkan, baik warna, bau, dan rasanya, maka air itu menjadi najis baik sedikit ataupun banyak

 

Kedua, air yang najis apabila bercampur dengan sesuatu yang haram, walaupun yang haram itu tidak terdapat padanya. Apabila seseorang bertanya, “Apa alasan dalam membedakan antara air yang najis dan air yang tidak najis, padahal tidak ada perubahan apapun pada salah satunya?”. Maka jawabannya adalah, hujjah dalam hal itu adalah Sunnah (hadits shahih). Telah diriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radhiallahu ‘Anhuma, dari bapaknya, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلْ نَجَسًا

“Apabila air ada dua qullah (+ 270 liter), maka ia tidak membawa najis” (terdapat pula dalam Sunan Tirmidzi bab Wudhu hadits no.67)

 

Apabila kadar air berukuran 5 geriba maka air (yang mengalir) itu tidak mengandung najis. Akan tetapi jika air kurang dari lima geriba dan bercampur dengan bangkai, maka air itu dikategorikan sebagai air yang najis. Bejananyapun najis walaupun isinya telah dituang, namun dapat suci kembali bila dicuci.

 

Namun apabila air yang kurang dari 5 geriba itu bercampur dengan najis dan keadaan air itu menjadi berubah, maka hukumnya adalah najis. Akan tetapi jika dituangkan air lain hingga menjadi 5 geriba atau lebih, maka air tersebut dianggap sebagai air yang suci. Demikian pula apabila air yang bercampur najis itu dituangkan  ke air lain yang lebih sedikit darinya atau lebih banyak, dan setelah dicampur keduanya mencapai kadar 5 geriba atau lebih, maka salah satu dari keduanya tidak merubah yang lainnya menjadi najis. Apabila keduanya telah mencapai 5 geriba, maka keduanya adalah suci. Lalu bila dipisahkan kembali, keduanya tidak dihukumi najis setelah keduanya dalam keadaan suci, kecuali ada najis lain yang mencampurinya.

 

Kotoran burung (baik yang dagingnya dimakan ataupun tidak) apabila bercampur dengan air, maka air itu menjadi najis, karena kotoran itu menjadi basah akibat berbaur dengan air. Adapun keringat orang Nasrani, orang Majusi (penyembah api) orang junub dan wanita haid tidak najis. Begitu juga keringat setiap binatang ternak dan binatang buas tidak najis, kecuali anjing dan babi.

 

Demikian juga dengan keringat manusia, apabila bercampur dengan air, maka ia tidak najis, karena keringat seluruh manusia dan binatang ternak tidak najis dari tempat manapun keringat itu keluar, baik dari ketiak manusia atau yang lainnya.

 

pabila bejana tanah atau sumur dibangun (dibeton) terkena najis yang di dalamnya terdapat sedikit air, padahal dapat menampung banyak air, kemudian terdapat pula benda haram yang bercampur dengan air itu, lalu dituangkan ke dalamnya air lain sehingga benda haram itu menjadi tidak ada, namun kadar air masih sedikit, maka air itu dianggap najis. Lalu apabila dituangkan lagi padanya air lain sebanyak air tadi, dan tidak ada lagi padanya benda yang haram, maka air itu menjadi suci. Bejana tanah dan sumur yang berisi air itu menjadi suci, keduanya dihukumi najis karena airnya.

 

Apabila air telah menjadi suci, maka sesuatu yang disentuh air itu juga dihukumi suci. Bejana itu tidak merubah hukum air, sebagaimana air tidak merubah hukum bejana, hanya saja bejana mengikuti hukum air, ia suci dengan sucinya air dan dianggap najis karena najisnya air.

 

Apabila air sedikit yang berada dalam suatu bejana bercampur dengan najis, maka cukup dengan membuang airnya dan mencucinya. Kecuali apabila anjing dan babi meminum bejana itu, maka cara mensucikannya dengan mencucinya sampai 7 (tujuh) kali dimana pada cucian yang pertama atau yang terakhir menggunakan tanah, karena ia (bekas jilatan babi dan anjing) tidak suci selain dengan cara seperti itu.

Iklan

Penulis:

just an ordinary person

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s