PERAN ULAMA DALAM GERAKAN PROTES SOSIAL

 

Foto Tirta Kusuma.Foto Tirta Kusuma.

PENGARUH PERUT LAPAR TERHADAP PERUBAHAN POLITIK

  • 1944/1363H. Ulama dan santri serta rakyat Indonesia menghadapi tantangan yang sangat berat:
  1. Perang membutuhkan pangan dan logistik lainnya. Ulama desa diwajibkan menyerahkan padi miliknya.
  2. Perang membutuhkan dana untuk pembangunan kembali mesin yang rusak. Ulama diwajibkan menyerahkan hartanya baik berupa emas ataupun barang berharga lainya.
  3. Perang membutuhkan tenaga kerja pembangunan. Dampaknya rakyat dijadikan objek kerja paksa (romusha)
  4. Perang menyebabkan putusnya hubungan dagang antar Negara. Pada masa penjajahan Belanda, Indonesia masih memerlukan impor beras dari Thailand, maka bagaimana dampaknya bila hubungan dagang dengan Thailan terputus? Bahaya kelaparan mewabah di pulau Jawa. Dalam kebutuhan sandang, masih bergantung dari India, Cina, dan Negara lainnya. Perang Asia Timur Raya dan Perand Dunia II menyebabkan sandang pangan menjadi langka. Maka bagaimana jadinya apabila sandang pangan yang merupakan kebutuhan pokok menjadi langka? Seluruh keluarga rentan akan berbagai penyakit.
  5. Keluarga tentara PETA yang dipimpin oleh para Ulama tidak dapat menghindar dari bencana kelaparan dan kekurangan sandang. Dalam kondisi ini, timbul berbagai gerakan protes sosial dari desa-desa yang dipimpin oleh Ulama di Jawa dan pemberontakan Tentara PETA, maka Tentara PETA bekerja sama dengan Ulama

  • Sebenarnya Jepang sangat memahami perlunya memperhatikan masalah pangan dalam Perang Asia Timur Raya. Maka dibentuklah Beikoku Tyuoo Kobaisyo (Kantor Pusat Urusan Pembelian Beras) dan Beikoku Toosei Kai (Kantor Pengendalian Penjualan dan Pembelian Beras). Dibentuk pula Kumiai Renmei (Koperasi Persatuan Desa).

Kantor-kantor ini didirikan di Jawa Barat (Serang, Jakarta, Bogor, Bandung, Garut, Ciamis, Tasikmalaya, dan Cirebon), Jawa Tengah (Purwokerto, Brebes, Pekalongan, Semarang, Magelang, Jogjakarta), dan Jawa Timur (Surabaya, Kediri, Malang, Jember).

Akan tetapi kantor-kantor tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya. Penyerahan padi yang seharusnya dibeli dengan harga wajar atau ditukar dengan barang-barang yang dibutuhkan petani, pada kenyataannya petani dikenakan kewajiban menyerahkan hasil padinya tanpa pergantian apapun. Penyimpangan inilah yang memicu timbulnya protes sosial dikalangan petani.

 

  • Dari Sukamanah Tasikmalaya muncullah seorang ulama bernama K.H. Zainal Moestofa. Menurut MR.Kasman Singodimedjo (Daidancho Tentara PETA di Jakarta) peristiwa itu terjadi pada tanggal 18 Februari 1944 (Gerakan protes ini tidak diberitakan di media apapun termasuk surat kabar TJAHAYA pimpinan Otto Iskandardinata, sebagai usaha Jepang agar perlawanan para ulama tidak menyebar ke desa lain di pulau Jawa dan Madura yang menderita kelaparan, yang saat itu berjumlah 20.834 desa dan 79 kabupaten)

 

  • Protes yang dilakukan KH. Zainal Moestofa (Nahdatoel Oelama) sebagai pimpinan Pesantren Cimerah Sukamanah lebih cenderung kepada perlawanan politik daripada menuntut padi yang dirampas oleh Jepang. Mengapa? KH. Zainal Moestofa menyadarkan para santri dan petani bahwa tidak mungkin terjadi perampasan padi apabila Indonesia tidak dijajah. Oleh karena itu, KH.Zainal Moestofa memberikan kualitas mutu motivasi atau nawaitu gerakannya, yaitu menuntut kemerdekaan Indonesia.

 

  • Gerakan perlawanan politiknya tidak menargetkan kemenangan dalam mempertahankan pesantrennya dari serangan Jepang, melainkan betapa besar dosanya sebagai ulama dan santri bila melihat kezhaliman lalu tidak melakukan perlawanan. Karena para santri hanya dipersenjatai dengan pedang bambu atau tulang sapi, sedangkan lawannya adalah Jepang dengan persenjataan modern, oleh karena itu orang tua santri disadarkan agar merasa bahagia bila puteranya gugur sebagai syuhada.

 

  • Setelah sebelumnya kehilangan 2 orang prajuritnya yang terbunuh di pesantren (jenazah 2 prajurit Jepang tersebut dimakamkan di komplek Pesantran Sukamanah, sekarang sudah tidak ada karena diminta oleh Pemerintah Jepang untuk dipindahkan ke makam tentara korban Perang Asia Timur Raya di Jepang). Kemudian Jepang melakukan serangan besar-besaran, pesantran dikepung oleh tentara Jepang dan polisi pribumi, serta dipersiapkan pula tank di sepanjang jalan Sukamanah hingga Tasikmalaya (sejauh 6,1 Km).

 

  • Hasilnya sudah bisa ditebak, perlawanan dengan persenjataan yang tidak seimbang ini memungkinkan KH.Zainal Moestofa dan 21 pimpinan pesantren lainnya dapat ditangkap dalam waktu singkat, kemudian mereka mendapat penyiksaan yang menyedihkan, pesantrennya dihancurkan, kitab-kitab dibakar, gugurlah 85 santri sebagai syuhada bersama Kiai dan pimpinan pesantren, sisanya ditangkap, diinterogasi dan disiksa, maka jawaban mereka adalah “Hoyong Merdeka” dalam bahasa Sunda yang artinya “Ingin Merdeka”.

 

  • Tentara Jepang tidak mungkin mau mendengar tuntutan para Ulama Indonesia merdeka berdasarkan Islam. Oleh karena itu Mahkamah Tentara Jepang menjatuhkan hukuman mati kepada 21 Syuhada: KH.Zainal Moestofa, Kiai Domon, Kiai A.Hidajat, Sarkasih, Adoeng Karim, Hoesein, Abdoel Rozaq, Namri Amma, Kiai Aip Abdoel Hakim, Hadji Hafid, Hambali, Tahri, Endin, Asikin, Hoedori, Kiai Nadjamoeddin, Saefuddin, I.Sjahroni, Samsoedin, Oemar, Achmad.

 

  • KLARIFIKASI : operasi tanpa belas kasih ini tidak mungkin dilakukan dengan menggunakan tentara PETA, oleh karena itu digunakanlah polisi pribumi. Mengapa? Karena Tentara PETA Batalyon I Tasikmalaya dipimpin oleh Daidanchi KH.Soetalaksana dan Batalyon II Pangandaran dipimpin oleh Daidancho KH.Pardjaman, yang keduanya adalah dari Perserikatan Moehammadijah. (Nahdatoel Oelama dan Perserikatan Moehammadijah berakar dari 2 orang Ulama yang bersaudara).

 

  • Menurut A.H. Nasution, KH.Zainal Moestofa merupakan Kiai Emas yang bercita-cita membangun kebahagiaan rakyat dalam Negara Islam yang bebas dari kekuasaan asing.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

GERAKAN PROTES SOSIAL DI LOHBENER INDRAMAYU

Gerakan protes Pesantren Cimerah Sukamanah ternyata membangkitkan semangat perlawanan Ulama di Indramayu. Tidak takut dengan serangan balatentara Jepang yang diikuti pembantaian santri dan penangkapan ulamanya.

 

Wilayah pedesaan Indramayu akan mudah bangkit semangat perlawanannya, karena dikenal sebagai daerah yang kurang subur. Bahaya kelaparan, wabah penyakit, dan berbagai penderitaan tak dapat dihindari. Hasil sawah ladangnya disita oleh balatentara Jepang. Padahal saat mendarat, Jepang disambut sebagai tentara pembebas dari penjajahan Barat. Namun mengapa setelah pendudukan justru para petani ditindas oleh balatentara Jepang? Kenyataannya justru terjadi kembali penindasan terharap petani Indramayu seperti penjajahan Belanda dengan tanam paksa 1380-1919M.

 

Para ulama yang tidak tahan lagi melihat penderitaan rakyat petani muslim menderita, secara massal terserang wabah penyakit, kelaparan, dan busananyapun menyedihkan (terbuat dari karung goni/karung beras). Oleh karena itu, pada 30 Juli 1944, Ahad Pon, 9 Syawwal 1363H, muncullah gerakan protes yang dipimpin oleh : H.Madrijas, H.Kertiwa, Kiai Srengseng, Kiai Moekasan, Kiai Koesen.

 

Para ulama ini menyadari bahwa penderitaan rakyat disebabkan karena dijajah, maka mereka bertekad sama dengan KH.Zainal Moestofa untuk berjihad fii sabilillah, membangun Indonesia bebas dari penjajahan, berdasarkan Islam. Gerakan ini dilakukan setelah para ulama dan santri selesai shaum Ramadhan dan selesain menjalankan shaum enam hari bulan Syawwal.

 

Dalam menghadapi perlawanan para ulama dan santri Jepang memilih sistem dari Prof.Dr.C.Scnouck Hurgronje, yakni operasi militer tanpa belas kasih. Maka para ulama dan santri di Indramayu inipun ditangkap dan dihukum mati. Akan tetapi pelaksanaan hukuman tembak mati dilaksanakan setelah diumumkannya janji kemerdekaan dari Perdana Menteri Koiso pada 7 September 1944, Kamis Pahing, 18 Ramadhan 1363.

 

 

 

 

 

 

JANJI KEMERDEKAAN

Walaupun mengalami penyerbuan dan dibakar habis pesantrennya, namun gerakan protes Pesantren Sukamanah Tasikmalaya pada 18 Februari 1944, Jumat Kliwon, 22 Safar 1363, yang menuntut kemerdekaan ditindas dengan kejam. Menyusul kemudian gerakan Pesantren Lohbener Indramayu pada 30 Juli, Ahad Pon, 9 Syawwal 1363, berani melancarkan perlawanan terhadap tentara Jepang, walaupun mengalami pembantaian pula, akan tetapi gerakan-gerakan tersebut memberikan dampak bagi bangsa Indonesia.

 

Oleh karena itu, Kerajaan Shinto Jepang melalui Perdana Menteri Koiso, memberikan jawaban terhadap tuntutan kemerdekaan dari pada Ulama Pesantren Sukamanah Tasikmalaya dan Lohbener Indramayu, yaitu memberikan Janji Kemerdekaan Indonesia kelak pada kemudian hari, yang disampaikan pada 7 September 1944, Kamis Pahing, 18 Ramadhan 1363.

 

Janji Kemerdekaan dari Perdana Menteri Koiso tersebut diumumkan oleh Letnan Jendral Kumashiki Harada pada  8 September 1944, Jumat Pon, 19 Ramadhan 1363. Diikuti dengan pengibaran bendera Merah Putih dan diizinkan pula menyanyikan lagu Indonesia Raya.

 

Janji tersebut dimuat dalam surat kabar Tjahaya :

Berhoeboeng dengan keadaan terseboet, maka disini dioemoemkan bahwa Dai Nippon T. memperkenankan kemerdekaan segenap bangsa Indonesia kelak kemoedian hari soepaja dengan djalan demikian moega-moega kemakmoeran segebap bangsa Indonesia jang kekal dan abadi dapat dipertahankan setegoeh-tegoehnya.

 

Catatan :

  • Janji Kemerdekaan 7 September 1944 ini dipengaruhi pula oleh kekalahan Italia dan Jerman di Eropa. Sekutu berhasil membuat Italia menyerah pada 1 Mei 1944, membebaskan Normandia 6 Juni 1944, Perancis 24 Agustus 1944 dan Belgia 2 September 1944.
  • Janji Kemerdekaan yang diumumkan pada 8 September 1944, Jumat Pon, 19 Ramadhan 1636 di Jakarta. Setahun kemudian, bertepatan pula di bulan Ramadhan, direbut dengan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, Jumat Legi, 9 Ramadhan 1364 di Jakarta. Jayakarta atau Jakarta yang didirikan pada 22 Juni 1527, 22 Ramadhan 933. Maka bagi umat Islam bangsa Indonesia, Ramadhan sebagai bulan penuh berkah dan rahmat Allah Yang Maha Kuasa.

 

Puncak keberhasilan  dari perjuangan yang sangat panjang, diawali sejak jaman wali songo, kemudian oleh para ulama dan santri dalam menjawab tantangan imperialis Barat Katolik Portugis, 1511M.

 

Masuknya Imperialis Barat Katolik Portugis ke Nusantara adalah sebagai pelaksanaan dari Perjanjian Tordesilas, 1494M. Perjanjian yang dibuat Kerajaan Katolik Spanyol dan Kerajaan Katolik Portugis yang ditengahi oleh Paus Alexander VI, yang memberikan kewenangan kepada mereka bahwa kedua belahan dunia (Barat dan Timur) yang berada di luar Negara Gereja Vatikan merupakan wilayah tak bertuan, bangsanya adalah bangsa yang biadab.

 

Dengan slogan Gold,Gospel, untuk Glory, berdasarkan Perjanjian Tordesilas, Kerajaan Katolik Spanyol ke bagian Barat, sedangkan Kerajaan Katolik Portugis kebagian Timur.

 

Perkembangan Kerajaan Katolik Portugis di Nusantara hingga mematahkan jalur niaga launt Islam dengan menduduki Malaka, pusat pasar umat Islam, dan Sunda Kelapa, 1522 setelah penguasaan Kalkuta, India.

 

Serbuan atas pelabuhan Sunda Kelapa berhasil direbut kembali oleh Sjarif Hidajatoelah atau Soenan Goenoeng Djati bersama menantunya Fatahillah atau Faletehan.

 

Kemenangan gemilang ini disyukuri dengan mengganti nama Pelabuhan Sunda Kelapa Menjadi Jayakarta yang merupakan bahasa al Qur’an, karena pembebasan Sunda Kelapa bukan sekedar pembebasan dari penjajahan, akan tetapi merupakan pembebasan umat Islam dari penjajahan aqidah kufur.

 

Maka nama PELABUHAN SUNDA KELAPA diganti menjadi  FAT-HAN MUBINA (QS. 48:1), yang artinya Kemenangan Paripurna atau JAYAKARTA. Pembebasan ini terjadi pada 22 Juni 1527 bertepatan dengan 22 Ramadhan 933, yang selanjutnya Jayakarta berubah nama menjadi Batavia, kemudian menjadi Jakarta.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s