RINGKASAN AMALAN-AMALAN SEPUTAR PUASA RAMADHAN

Hasil gambar untuk amalan bulan ramadhan

Arti puasa menurut bahasa adalah menahan. Menurut syariat islam puasa adalah suatu bentuk aktifitas ibadah kepada Allah dengan cara menahan diri dari makan, minum, hawa nafsu, dan hal-hal lain yang dapat membatalkan puasa sejak terbit matahari / fajar / subuh hingga matahari terbenam / maghrib dengan berniat terlebih dahulu sebelumnya.

 

CARA MENETAPKAN AWAL BULAN RAMADHAN

Awal bulan Ramadhan ditetapkan dengan melihat hilal (bulan), namun apabila terhalang/tidak terlihat, maka dengan menyempurnakan bilangan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.

 

Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila engkau sekalian melihatnya (bulan) shaumlah, dan apabila engkau sekalian melihatnya (bulan) berbukalah, dan jika awan menutupi kalian maka perkirakanlah.” Muttafaq Alaihi. Menurut riwayat Muslim: “Jika awan menutupi kalian maka perkirakanlah tiga puluh hari.” Menurut riwayat Bukhari: “Maka sempurnakanlah hitungannya menjadi tigapuluh hari.”(lihat Bulughul Maram, bab shiyam no.671)

 

Ibnu ‘Umar Radhiallahu ‘Anh sebagai masyarakat melaporkan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai Pemerintah, kemudian Beliau sebagai pemerintah mengumumkan waktunya Ramadhan, dengan kata lain sebagai masyarakat, kita berpuasa bersamaan dengan waktu yang ditetapkan oleh pemerintah.

 

PERKARA-PERKARA YANG MERUSAK PUASA RAMADHAN

  1. Tidak mengetahui hukum-hukum puasa serta tidak menanyakannya.

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa dikehendaki baik oleh Allah, niscaya ia dipahamkan dalam urusan agamanya.” ( Muttafaq Alaih).

 

  1. Menyia-nyiakan waktu di bulan Ramadhan

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sungguh celaka seseorang yang mendapatkan bulan ramadhan kemudian berakhir bulan ramadhan tetapi dosanya tidak diampuni.” (HR. Tirmidzi dan dia berkata “ Hadits Hasan Gharib” dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dari shahabat Abu Hurairah).

 

  1. Ta’at hanya di bulan Ramadhan.
  2. Bersedih dengan datangnya bulan Ramadhan.
  3. Hanya menjaga hal-hal lahiriah.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum.”(HR. Al Bukhari).

  1. Meninggalkan shalat taraweh.
  2. Puasa tetapi tidak shalat.
  3. Bepergian agar punya alasan berbuka.
  4. Berbuka dengan sesuatu yang haram.
  5. Berlebih-lebihan dalam makan dan minum

Allah berfirman :

“Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raaf : 31)

  1. Melaksakan shalat tarawih dengan cepat-cepat tidak tuma’ninah.

Rasulullah pernah melihat seseorang yang shalatnya tidak tuma’ninah, belum sempurna dari satu gerakakn sudah pindah pada gerakan shalat yang lainnya. Lalu Rasulullah menyuruh untuk mengulang shalatnya. Orang yang shalat wajib untuk menyempurnakan gerakan shalatnya, tuma’ninah dalam ruku, sujud dan gerkan shalat lainnya. Rasulullah bersabda :

“Wahai sekalian muslim, tidak ada shalat bagi orang yang tidak meluruskan tulang punggunya ketika ruku dan sujud.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Majah dan Ahmad dengan sanad yang shahih. Silahkan lihat As-Shahihah : 2536)

  1. Menjadikan bulan Ramadhan kesempatan untuk minta-minta

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Senantiasa seseorang meminta-minta kepada manusia sampai pada hari kiamat datang dalam keadaan wajahnya tidak tersisa sepotong dagingpun.” (HR Bukhari dan Muslim)

  1. Menganggap Bahwa Mandi dan Berenang atau Menyelam Dalam Air Membatalkan Puasa
  2. Menjadikan Imsak Sebagai Batasan Sahur
  3. Menganggap Bahwa Puasa Orang yang Junub (Atau yang Semakna Dengannya) Tidak Sah Bila Bangun Setelah Terbitnya Fajar dan Belum Mandi

Dari hadits ‘Aisyah dan Ummu Salamah riwayat Bukhary-Muslim, “Adalah Rasulullah memasuki waktu shubuh dalam keadaan junub karena jima’ bukan karena mimpi kemudian beliau tidak buka dan tidak pula meng-qadha` (mengganti) puasanya.”

  1. Tidak Berkumur-Kumur dan Menghirup Air ke Dalam Hidung Ketika Berwudhu
  2. Menganggap Bahwa Makan dan Minum Dalam Keadaan Lupa Membatalkan Puasa
  3. Menyibukkan Diri dengan Pekerjaan Rumah Tangga di Akhir Bulan Ramadhan
  4. Membayar Fidyah Sebelum Meninggalkan Puasa
  5. Menganggap Bahwa Darah yang Keluar dari Dalam Mulut Dapat Membatalkan Puasa
  6. Melafadzkan niat untuk berpuasa

Hukum niat dalam berpuasa Ramadhan adalah wajib. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tiada baginya puasa itu.” [Riwayat Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, dan al-Baihaqy dari Hafshah binti Umar]

Imam Nawawi rahimahullah –ulama besar dalam Madzhab Syafi’i- mengatakan, “Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan tanpa ada perselisihan di antara para ulama.” (Rauwdhatuth Thalibin, I/268, Mawqi’ul Waroq-Maktabah Syamilah)

  1. Membaca doa berbuka puasa yang tidak ada tuntunannya

 

 

PERKARA YANG MEMBATALKAN PUASA

  1. Makan dan Minum Dengan Sengaja

Jikaorang yang puasa makan atau minum karena lupa, salah atau dipaksa, maka tidak membatalkan puasanya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,”Jika lupa hingga makan dan minum, hendaklah menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Alah yang memberinya makan dan minum”(HR.Bukhari 4/135 dan Muslim 1155)

  1. Muntah Dengan Sengaja
  2. Haidh dan Nifas
  3. Suntikan Yang Mengandung Makanan
  4. Jima

Dizinkannya bergaul (dengan istri) di malam hari, (maka bisa) difahami dari sini bahwa puasa itu dari makan, minum dan jima’. Barangsiapa yang merusak puasanya dengan jima’ harus mengqadha’ dan membayar kafarat, dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu (dia berkata) : “Pernah datang seseorang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian ia berkata, ‘Ya Rasululah binasalah aku!’ Rasululah bertanya, ‘Apa yang membuatmu binasa?’ Orang itu menjawab, ‘Akumenjimai istriku di (siang hari) bulan Ramadhan’. Rasululah bersabda, ‘Apakahkamu mampu memerdekakan seorang budak?’ Orang itu menjawb,’Tidak’.Rasululah bersabda, ‘Apakah engkau mampu memberi makan 60 orang miskin?’ Orang itu menjawab, ‘Tidak’ Rasululah bersabda, ‘Duduklah’. Diapun duduk. Kemudian ada yang mengirim satu wadah korma kepada Nabi Rasululah bersabda, ‘Bersedekahlah’, Orang itu berkata, ‘Tidak ada di antara dua kampung ini keluarga yang lebih miskin dari kami’.Rasululah pun tertawa hingga terlihat gigi serinya, lalu beliau bersabda, ‘Ambilah, berilah makan keluargamu” (HR.Hadits Shahih dengan berbagai lafadz yang berbeda dari Bukhari 11/516, Muslim 1111)

 

YANG BOLEH DILAKUKAN OLEH ORANG YANG PUASA

[1]. Memasuki Waktu Subuh Dalam Keadaan Junub

[2]. Bersiwak

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku suruh mereka untuk bersiwak setiap kali wudlu” [HR.Bukhari, Muslim, dll]

[3]. Berkumur Dan Istinsyaq

 [4]. Bercengkrama Dan Mencium Isteri

 [5]. Mengeluarkan Darah dan Suntikan Yang Tidak Mengandung Makanan[Lihat Risalatani Mujizatani fiz Zakati washiyami hal.23 Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Rahimahullah]

 [6]. Berbekam

 [7]. Mencicipi Makanan

 [8]. Bercelak, Memakai Tetes Mata Dan Lainnya Yang Masuk Ke Mata

 [9]. Mengguyurkan Air Ke Atas Kepala Dan Mandi

[10]. Meminum Air Pada Gelas Yang Sedang Dipegang Ketika Adzan

 

 

BACAAN DOA BERBUKA PUASA

Diantara yang harus diperhatikan ketika berbuka puasa adalah sebagai berikut :

  1. Menyegerakan berbuka sebelum shalat maghrib
  2. Disunnahkan berbuka dengan kurma, jika tidak maka dengan sesuatu yang berair dan manis
  3. Bacaan doa berbuka puasa

Dari Ibnu Umar, adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan :

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:

Artinya :

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila beliau berbuka, beliau membaca:

اللهُ شَاءَ إِن الأَجْرُ وثَــبَتَ العُرُوقُ وابْــتَلَّتِ الظَّمَـأُ ذَهَبَ

“Dzahaba-dz Dzama’u, Wabtalati-l ‘Uruuqu wa Tsabata-l Ajru, Insyaa Allah” (Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan/urat-urat, dan telah tetap ganjaran/pahala, Inysa Allah). [Hadits HASAN, riwayat : Abu Dawud No. 2357, Nasa’i 1/66. Daruquthni dan ia mengatakan sanad hadits ini HASAN. Hakim 1/422 Baihaqy 4/239]

SHALAT TARAWIH

Salat Tarawih (kadang-kadang disebut Teraweh atau Taraweh) adalah salat sunnat yang dilakukan khusus hanya pada bulan ramadan. Tarawih dalam bahasa Arab adalah bentuk jama’ dari تَرْوِيْحَةٌ (tarwiihah) yang diartikan sebagai “waktu sesaat untuk istirahat”.

 

Shalat tarawih disyari’atkan secara berjama’ah berdasarkan hadits Aisyah Radhiyalahu ‘anha.

“Rasululah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada suatu malam keluar dan shalat di masjid, orang-orang pun ikut shalat bersamanya, dan mereka memperbincangkan shalat tersebut, hingga berkumpulah banyak orang. Ketika beliau shalat, mereka-pun ikut shalat bersamanya, mereka meperbincangkan lagi, hingga bertambah banyaklah penghuni masjid pada malam ketiga, Rasululah Shalalalhu ‘alaihi wa salam keluar dan shalat. Ketika malam keempat masjid tidak mampu menampung jama’ah, hingga beliau hanya keluar untuk melakukan shalat Shubuh. Setelah selesai shalat beliau menghadap manusia dan bersyahadat kemudian bersabda.

“Amma ba’du. Sesungguhnya aku mengetahui perbuatan kalian semalam, namun aku khawatir diwajibkan atas kalian, sehingga kalian tidak mampu mengamalkannya”

Rasululah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wafat dalam keadaan tidak pernah lagi melakukan shalat tarawih secara berjama’ah” (HR. Bukhari 3/220 dan Muslim 761.)

 

 

Jumlah Rakaatnya

Manusia berbeda pendapat tentang batasan raka’atnya, pendapat yang mencocoki petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah delapan raka’at tanpa witir berdasarkan hadits Aisyah Radhiyalahu ‘anha.”Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah shalat malam di bulan Ramadhan atau selainnya lebih dari sebelas raka’at” (HR. Bukhari 3/16 dan Muslim 736)

 

Ketika Umar bin Al-Khaththab menghidupkan sunnah ini beliau mengumpulkan manusia dengan sebelas raka’at sesuai dengan sunnah shahihah, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Malik 1/115 dengan sanad yang shahih dari jalan Muhammad bin Yusuf dari Saib bin Yazid, ia berkata: “Umar bin Al-Khaththab menyuruh Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad-Daari untuk mengimami manusia dengan sebelas raka’at”.

 

Lantas bagaimana solusi mengatasi perbedaan pendapat tentang jumlah rakaat tarawih?

Jumhur ulama mendekati riwayat-riwayat di atas dengan metode al jam’u, bukan metode at tarjih, sebagaimana yang dipilih oleh Syaikh Al Albani. Dasar pertimbangan jumhur adalah:

  1. Riwayat 20 (21, 23) raka’at adalah sah.
  2. Riwayat 8 (11, 13) raka’at adalah sah.
  3. Fakta sejarah menurut penuturan beberapa tabi’in dan ulama salaf.
  4. Menggabungkan riwayat-riwayat tersebut adalah mungkin, maka tidak perlu pakai tarjih (menguatkan salah satu riwayat&menolak riwayat lain), yang konsekuensinya adalah menggugurkan salah satu riwayat yang shahih.

 

Perbedaan tidak sama dengan perpecahan

Imam Syafi’I (150-204H), mengatakan,

“Saya menjumpai orang-orang di Mekkah. Mereka shalat (tarawih) 23 raka’at. Dan saya melihat penduduk Madinah, mereka shalat 39 raka’at, dan tidak ada masalah sedikitpun tentang hal itu.”

“Seandainya mereka memanjangkan bacaan dan menyedikitkan bilangan sujudnya, maka itu bagus. Dan seandainya mereka memperbanyak sujud dan meringankan bacaan, maka itu juga bagus; tetapi yang pertama lebih aku sukai.” (Fathul Bari, 4/23; Sunan Thmidzi, 151; Fath Al Aziz, 4/266)

 

Ibn Taimiyah berkata,

“Ia boleh shalat tarawih 20 raka’at sebagaimana yang mashur dalam madzhab Ahmad dan Syafi’i. Boleh shalat 36 raka’at sebagaimana yang ada dalam madzhab Malik. Boleh shalat 11 raka’at, 13 raka’at. Semuanya baik. Jadi banyaknya raka’at atau’ sedikitnya tergantung lamanya bacaan dan pendeknya.”  Beliau juga berkata,

 

Tata cara shalat tarawih

Aisyah Radhiallahu ‘Anha ditanya: “Bagaimana shalat Rasul pada bulan Ramadhan?” Dia menjawab, “Beliau tidak pemah menambah -di Ramadhan atau di luarnya- lebih dari 11 raka’at. Beliau shalat empat rakaat, maka jangan ditanya tentang bagusnya dan lamanya. Kemudian beliau shalat 3 raka’at.” (HR Bukhari).

 

Rasululah shalat empat raka’at dengan dua kali salam, kemudian beristirahat. Hal ini berdasarkan keterangan Aisyah, “Adalah Rasululah melakukan shalat pada waktu setelah selesainya shalat Isya’, hingga waktu fajar, sebanyak 11 raka’at, mengucapkan salam pada setiap dua raka’at, dan melakukan witir dengan satu raka’at”. (HR Muslim).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s